Singgah Yang Tak Berniat Tinggal

Singgah Yang Tak Berniat Tinggal

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 20, 2026
Tidak semua pertemuan ditakdirkan untuk menjadi akhir yang indah. Ada yang datang hanya untuk mengisi kekosongan, lalu pergi ketika hatinya telah menemukan arah. Danesha adalah perempuan yang percaya bahwa cinta selalu memiliki tujuan. Ketika hidupnya dipertemukan dengan Yordan, lelaki yang hadir di saat ia hampir menyerah pada kehidupan, Danesha merasa semesta akhirnya berpihak padanya. Perhatian kecil, obrolan panjang hingga larut malam, dan janji-janji sederhana membuat Danesha percaya bahwa mereka sedang menulis kisah yang sama. Namun, perlahan Danesha menyadari bahwa ia hanyalah tempat persinggahan bagi seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Ketika luka Yordan mulai sembuh, ia memilih melangkah pergi tanpa pernah benar-benar melihat luka yang ditinggalkannya. Di antara datang dan perginya Yordan, Danesha kehilangan banyak hal, kepercayaan, harapan, bahkan dirinya sendiri. Tetapi justru di sanalah ia belajar bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki. Terkadang, melepaskan adalah bentuk paling tulus dari mencintai. Sebab tidak semua orang yang datang ditakdirkan untuk tinggal. Ada yang hanya singgah, mengajarkan arti kehilangan, lalu pergi tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines