Mei, '98

Mei, '98

  • WpView
    Reads 92
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 27, 2024
𝐉𝐚𝐤𝐚𝐫𝐭𝐚, 𝐌𝐞𝐢 1998 Siang itu, keadaan kota Jakarta semakin memanas tak terkendali. Banyak rumah, toko dan fasilitas umum yang rusak dijarah massa. Banyak yang mati, disiksa, diperkosa bahkan hilang seolah hidupnya tak pernah ada. Suasana itu, membuat siapapun yang merasakannya ikut menderita. Trauma yang berkepanjangan, hingga waktu yang terus berjalan rupanya tak mampu mengobati luka di masa lalu. Mereka tak tahu. Siapa yang mereka bunuh, adalah ibu, anak, ayah, istri atau bahkan suami dari orang yang dicintai keluarganya. Mereka buta atas syarat-syarat menjadi manusia. Bahkan setelah puluhan tahun berlalu, masih banyak keluarga yang menanti kapan jasad orang yang dicintainya akan kembali. •••• Buku ini mengangkat kisah dari kerusuhan Mei di tahun 1998. Ada banyak cinta, keluarga, perjuangan, emosi, luka, janji, pengorbanan hingga kesetiaan yang turut serta mengisi setiap paragraf di dalamnya. Sebelum membacanya lebih lanjut, mari kita berdoa terlebih dahulu untuk para korban supaya bisa beristirahat dengan tenang dan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya. Buku ini tak bermaksud merendahkan siapapun atau pihak manapun. Saya hanya ingin berfokus pada kisah romansa muda yang turut menjadi saksi bagaimana kelamnya kejadian di tahun tersebut, hingga merenggut banyak hal yang jatuh bangun telah mereka capai. Selamat datang, terima kasih, maaf dan selamat membaca~
All Rights Reserved
#240
perjuangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Canvas of Love (Tamat)
  • Cahaya Dari Luka
  • PAIN (TERBIT) ✔
  • Kita Beda Tuhan [TAMAT]
  • Berbahagialah Dengan Rumah Barumu
  • Darbuka Cinta
  • Time Loop

Berapa banyak pengorbanan yang harus kujalani demi mendapat pengakuan darimu, Ma? Itulah pertanyaan yang melekat erat, terpaku, begitu dalam di memoriku. Mama yang tidak mau memasukkanku ke dalam dunianya, memilih membuangku demi cintanya kepada keluarga baru, dan menjadikanku pengemis kasih sayang. Segala cara kulakukan agar terlihat pantas baginya, bagi Mama, hingga ajal menjemput. Hatiku beku, segala cinta yang kuharap ternyata sepihak saja. Namun, ada keajaiban lain yang mengirimku ke kehidupan baru. Kepada keluarga baru. Menjalani segala hal yang dulu begitu kudamba. Di sinilah keluarga yang tidak memaksaku memohon sesendok perhatian dan segenggam kasih. Aku tidak perlu mengemis sama sekali. Akan tetapi, segala yang indah pun memiliki akhir. Maut kembali bertandang, membawaku menjauh dari hartaku yang paling berharga. Kupikir aku akan benar-benar dikirim ke dasar kehancuran setelah dipisahkan dari cahaya mentari. Sumber kebahagiaan. Namun, hal aneh terjadi. Aku kembali ke kehidupan pertamaku. Ke neraka yang menempaku sebagai makhluk menyedihkan, manusia yang tidak punya harapan. Kali ini aku takkan bertindak bodoh. Sudah cukup mengemis perhatian Mama. Aku tidak butuh segala pengharapan palsu yang dulu mati-matian kuperjuangkan. Segala yang tidak ditujukan bagiku tidaklah penting. Sekarang aku akan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak milikku, pilihanku, sebagaimana yang pernah diajarkan oleh keluargaku di kehidupan kedua. Aku bukan lagi seekor ngengat yang tergoda cahaya di malam hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines