"Pada akhirnya manusia hanya makhluk ciptaan Tuhan yang akan kembali bila di panggil, luka yang menggores jiwa akan terus ada sebagai penyesalan dan penyiksaan satu insan lainnya"-𝒢𝒶𝒹𝒾𝓈 𝓈𝑒𝓇𝒾𝒷𝓊 𝓌𝒶𝓇𝓃𝒶 Dia selalu adadi balik pantulan yang tak pernah benar-benar utuh. Gadis itu, yang berdiri diam di depan cermin, bukan sedang bercermin... tapi mencari, Sesuatu, Seseorang, Atau mungkin, dirinya sendiri yang perlahan menghilang. Tidak banyak yang tahu tentangnya. Ia tidak banyak bicara mengeluhkan ini itu, tapi sorot matanya seperti menyimpan ribuan kata yang urung terucap. Ia hidup di antara kenangan dan kemungkinan, di ruang yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Cermin itu bukan sekadar benda tua di sudut kamar ia adalah saksi diam dari luka yang tak pernah sembuh, dari cinta yang tak pernah selesai, dari pertanyaan-pertanyaan yang tak punya jawaban. ♡ "Lentera jiwaku, dengan sayap mungil penuh harapan, berhasil menembus jutaan gerbang cintaku yang telah lama terkunci dalam sepi dan luka yang tak terucapkan."-𝔅𝒶𝓎𝒶𝓃𝑔𝒶𝓃 𝓎𝒶𝓃𝑔 𝓉𝒶𝓀 𝓉𝑒𝓇𝒽𝒾𝓉𝓊𝓃𝑔 𝓁𝓊𝓀𝒶𝓃𝓎𝒶
Más detalles