Story cover for Prosa dari StasiunPena by TypeWritinggg
Prosa dari StasiunPena
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 20
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 20
Ongoing, First published Sep 20, 2023
StasiunPena ...
Tempat kata pulang saat hati lelah menyimpan.
Di antara sunyi dan harap,
pena menuliskan yang tak sempat terucap.

Seperti stasiun yang menanti kereta-
tempat bertemunya rindu dan perpisahan,
StasiunPena menjadi ruang singgah
bagi jiwa yang ingin bercerita namun tak tahu harus ke mana.
Di sini, setiap tulisan adalah perjalanan:
kadang tiba-tiba, kadang tertunda,
namun selalu membawa pulang sesuatu-
entah itu luka yang perlahan reda,
atau cinta yang diam-diam kembali terasa.

Ini bukan sekadar tulisan-
ini jejak rasa,
refleksi jiwa,
dan kereta sunyi
yang membawa pulang dirimu
pada bagian terdalam dari yang kau sebut: "aku".
.
.
.
.
.
Selamat datang di StasiunPena ku
.
Di tulis oleh TypeWriting | Januari 2025
All Rights Reserved
Sign up to add Prosa dari StasiunPena to your library and receive updates
or
#170berpuisi
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 7
MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU cover
Senandika : Titik Temu cover
Bunda oline dan bayi tata cover
Resonansi Rasa. (Bersauh) cover
𝐊𝐚𝐥𝐚 𝐒𝐞𝐧𝐣𝐚 [Sudah Terbit]  cover
Coretan Rindu cover
Nasihat dalam Puisi cover

MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU

16 parts Complete

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.