RAYYA: kisah cinta dua alam

RAYYA: kisah cinta dua alam

  • WpView
    Reads 1,037
  • WpVote
    Votes 91
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 29, 2024
WpInfo
Fiction
Paranormal
(Cerita ini terinspirasi dari pohon Beringin besar yang berumur ratusan tahun dan biasa digunakan untuk tempat persembahan dan sesajen di kota kecil di provinsi Jawa Timur) Rayya sudah berusia tiga puluh tahun di penghujung Desember ini. Dilema yang dihadapi keluarganya adalah jodoh yang tak kunjung datang, Keluarganya cemas dan mencoba mencari cara untuk menemukan jodohnya yang belum juga terlihat hilalnya. Khawatir Rayya terkena santet atau sihir yang menjadi penghalang jodohnya. Rayya sendiri tak mau pusing memikirkan hal itu, karena sejatinya dia menyimpan rahasia tentang kekasih hatinya. Hanya saja dia tak segera mau menghalalkannya dan selalu berkilah, karena lelaki itu tahu tak mungkin melakukannya. Lev, lelaki yang sudah menjalin hubungan dengannya itu...bukan seorang manusia.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE WITCH IN MY ROOM
  • [COMPLETE] MASK: Love and The Secret of Life
  • Gabriel Sebastian [HIATUS]
  • Cermin Ke Dunia Aetheria
  • Pria Misterius (Tamat)
  • Seraphine Lysora
  • Lady for Sultan ( Complete)

Setelah seratus tahun, bulan merah akhirnya kembali menampakkan diri di mata manusia. Membangkitkan kembali rasa penasaran seluruh negeri akan legenda dari para penyihir merah yang akan muncul untuk mencari pengantin prianya. Namun, tak seperti yang lain. Jeff Hugand tak ingin ikut penasaran. Karena ia tak pernah mempercayai cerita itu lebih dari sekadar cerita pengantar tidur anak-anak. Namun, di malam itu keraguannya menjadi sebuah kenyataan. Dimulai dengan menemukan catatan keluarganya hingga seorang wanita yang mendadak muncul di kamarnya. Tersenyum ke arahnya dengan manik mata dan bibir merah, juga jubah semerah darah yang ia kenakan. Persis seperti apa yang dikatakan Neneknya dalam cerita legenda penyihir bulan merah. Penyihir itu mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Jeff dengan lembut dan berkata, "Selamat malam, Jeff Hugand. Mengapa kamu terbangun? Bukankah tadi itu mimpi yang indah?" © _didinihari - Oktober 2024

More details
WpActionLinkContent Guidelines