Rehat (Proses Revisi)

Rehat (Proses Revisi)

  • WpView
    Reads 3,967
  • WpVote
    Votes 157
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadComplete Tue, Jun 2, 2026
Duka kehilangan masih pekat-pekatnya pada saat itu, namun tubuh kecil Asyara justru terpojok sebab disalahkan berulang kali oleh anggota keluarga yang merasa murka. Asyara tidak punya niat untuk membunuh, apalagi merenggut nyawa mamanya. Demi Tuhan, Asyara juga tidak ingin mama pergi secepat itu. "Ma, Papa marah sama Kakak. Kata Papa, Mama harus dikebumikan karna kenakalan Kakak." "Kenapa Mama tidak bangun pas orang-orang timbun badan Mama pakai tanah? Kakak tidak bisa gali tanahnya lagi, tanahnya terlalu banyak. Tunggu Kakak besok, ya? Kakak mau ajak Papa bantu Kakak gali tanahnya lagi. Tenaga Papa kan besar." Asyara kecil tidak tahu bahwa semenjak hari itu dimulai, penderitaannya juga dimulai. Asyara tidak sepenuhnya mengerti mengapa semua orang tiba-tiba berlaku berbeda kepadanya. "Ma, Papa kok pukul Kakak, ya? Padahal Kakak cuma minta tolong Papa buat bantu Kakak gali tanahnya. Kakak rindu, Mama. Mau peluk Mama yang lama."
All Rights Reserved
#574
kecewa
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Salina
  • ALLETA  [ON GOING]
  • PAIN (TERBIT) ✔
  • HILANG [Segera Terbit]
  • Sheina (Terbit)
  • Why do I Like You [On Going]
  • As Time Allows
  • Hypomone {ὑπομονή} || END✓
  • REGRET [END]
Salina

[LENGKAP] Hidupnya nyaris sempurna bagi siapa saja yang melihat dari luar potret kehidupannya. Salina Elira, anak bungsu dari pemilik perusahaan ternama, memiliki kakak laki-laki super penyayang, sahabat-sahabat setia juga kekasih yang tak kalah luar biasa. Namun hidupnya harus mencicipi nestapa, diseret derita, ia dipeluk erat prahara setelah perselingkuhan Ayahnya hampir dua tahun ini menghantui keharmonisan keluarganya. Ibunya nyaris gila, namun sulit bagi Salina memahami mengapa Ibunya masih kokoh bertahan diinjak-injak Ayahnya yang terang-terangan menunjukkan sikap tidak lagi cinta. Salina hancur hampir lebur menyaksikan setiap hari Ibunya menelan habis pil penenang, belum lagi Ayahnya yang entah malas pulang dan sibuk dengan perusahaan dan wanitanya. Sahabat-sahabatnya selalu ada, meski ia enggan bercerita. Salina paham, mereka mengerti dan memahami keadaan Salina. Kekasihnya pun demikian, meski pada akhirnya, terkuak luka lain, rahasia besar, yang hampir meluruhkan sikap optimisnya pada kebahagiaan. Ia dihajar keadaan, dipermainankan masa, diinjak-injak kenyataan. Salina putus asa, hilang harapnya pada bahagia. Ia tidak berani lagi mendamba pereda, sebab satu-satunya penawar luka yang ia punya pun dengan tega menggoreskan belati ke dasar hatinya. Cover by Pictures For You Id : @ted3530r

More details
WpActionLinkContent Guidelines