Kelas 10 IPA 1, tempat para guru menaruh harapan terbesar, adalah rumah bagi enam belas murid hasil seleksi paling ketat se-angkatan. Julukannya "Kelas Darwin" bukan tanpa alasan. Kalau Charles Darwin masih hidup, mungkin ia akan bangga melihat kelas ini karena teorinya terbukti setiap hari.
Di sini, evolusi kera menjadi manusia itu terbukti bahkan sebaliknya. Semakin dekat ujian atau olimpiade, semakin jelas bahwa manusia bisa berevolusi kembali menjadi kera.
Habitat ini dihuni enam belas spesies dengan keunikannya masing-masing. Ada selebgram dua ratus ribu pengikut yang mampu menyulap kertas ulangan menjadi reflektor foto. Ada penganut bumi datar yang justru langganan olimpiade geografi. Ada juga calon ilmuwan yang lebih hafal Undang-Undang daripada rumus kimia. Dan anehnya, semua itu terasa normal.
Sampai sekolah mengumumkan dimulainya SainsFest.
Secara resmi, SainsFest adalah festival tahunan jurusan IPA untuk mempererat kebersamaan sekaligus memamerkan karya siswa. Jurusan IPS punya SocialFest, dan jurusan lain memiliki festival mereka sendiri.
Di atas kertas, semuanya terdengar seperti perayaan.
Pada kenyataannya?
Ini perang gengsi antarjurusan.
Semua berlomba menghadirkan festival paling meriah, paling kreatif, dan paling ramai dibicarakan. Tidak ada penghargaan untuk "festival terbaik", tetapi semua orang bertindak seolah ada.
Tahun ini, giliran kelas 10 IPA 1 menjadi panitia utama. Dengan modal nol rupiah, pengalaman nyaris nol, dan waktu hanya dua bulan, mereka harus menyelenggarakan festival terbesar jurusan.
Situasi semakin kacau ketika satu ronde hompimpa memilih Sion Karina, siswi perfeksionis yang hanya ingin hidup tenang sebagai ketua panitia.
Selamat datang di seleksi alam versi anak SMA. Di sini, yang bertahan bukan yang paling jenius atau paling populer, melainkan mereka yang mampu beradaptasi dengan proposal dadakan, tenggat waktu, dan lima belas manusia paling aneh yang pernah dipertemukan dalam satu kelas.
All Rights Reserved