Teror mengerikan terjadi di Fakultas Hukum Universitas Cendekia Muda yang dikenal sebagai salah satu institusi pendidikan bergengsi di negeri ini. Situs resmi kampus yang selalu diperbarui setiap bulan dan biasanya menampilkan sederet prestasi akademik, tiba-tiba saja diretas menampilkan foto mayat tanpa mata dan gigi, disertai vonis pesan berdarah yang berbunyi: Lex Talionis.
Para korban adalah dosen dan mahasiswa, namun jasad mereka tak pernah ditemukan, tak ada penyelidikan, tak ada penjelasan, tak ada ungkapan bela sungkawa dan mereka hanya dianggap hilang begitu saja. Jejak digital mengarah ke ruang peradilan semu yang telah lama terbengkalai, tapi pihak kampus memilih untuk tidak memberikan akses dan menutup segala informasi demi menjaga reputasi.
Lembaga intelijen negara yang mencium bahaya, menilai ini bukan sekadar lelucon atau peretasan biasa. Ada yang lebih besar sedang terjadi seperti konspirasi internal, jaringan pembalasan, atau bahkan eksperimen sosial dalam skala ekstrem. Maka dikirimlah seorang agen intelijen handal dengan nama samaran Reagan Javier untuk menyamar sebagai dosen tamu.
Misi Reagan adalah mengungkap siapa dalang di balik serangkaian peristiwa menyeramkan itu. Tapi semakin ia menggali, semakin ia menyadari adanya kekaburan antara pembalasan dan keadilan. Ia sadar jika para korban memiliki rahasia tersembunyi dengan melakukan satu dari tujuh dosa mematikan. Seolah ada tangan tak terlihat yang menjatuhkan vonis atas kejahatan yang tak pernah tersentuh hukum.
Namun tugas Reagan bukan sekadar menyelidiki pembunuhan, tapi juga membedah pertanyaan yang lebih mengerikan. Apakah ia sedang memburu seorang pembunuh atau seorang pelaksana keadilan yang memberi hukuman saat hukum tak lagi mampu memberikan keadilan? Apakah ia harus tetap menjalankan tugasnya menangkap pelaku atau justru membiarkan Lex Talionis tetap berjalan untuk menghukum mereka yang pantas dihukum?
All Rights Reserved