Pain
  • WpView
    Reads 97
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 18, 2023
Aku tak pernah memahami apa yang ia rasakan, karena ia selalu menyembunyikan emosinya dengan wajah datarnya. Tak pernah ia menunjukkan bahagia, sedih atau perasaan lainnya. Ia tak mempunyai ekspresi dalam emosi. Hanya saja, aku memahami satu hal darinya; ia menyimpan beban yang tak terhitung dari masa lalunya yang buruk. Segala emosinya yang tercampur aduk menjadi satu adalah yang membuatnya tak lagi mampu berekspresi. Semakin dalam rasa sakit yang ia rasakan, ia seolah kehilangan perasaannya. Tak lagi merasakan apa-apa. Pertama kali aku menemukannya ketika hujan merembes deras di Tokyo. Di tengah pemakaman yang sepi, ia berdiri mematung di bawah hujan tanpa payung, menatap kosong pusara Ibunya yang ada di hadapannya. Ia menangis tanpa suara. Tapi, yang aku lihat saat itu bukanlah anak yang menangis meratapi kepergian ibunya, melainkan bocah penuh amarah yang meluap-luap entah kepada siapa. Hanya ada satu kata yang keluar darinya sejak pertama aku menghampiri dirinya. Dengan suara gemetar, ia memohon, "Oji-san, tolong aku.."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Katanya Jadi Anak Terakhir Enak - WOONHAK [Terinspirasi dari kisah nyata]
  • Emotionless  [BNHA X OC] (Slow Up!)
  • Wrong Dream
  • You're Here, But Not For Me
  • Tunduk: Malam-Malam Milik Tuan
  • Mianhae Hyung || So Junghwan {SEDANG DIREVISI}
  • last hold S2 ✓
  • Devil in Your (ANGGARANTA)

Sejak hari itu, ayah tak pernah lagi menginjakkan kaki ke rumah. Tapi bayangannya masih menempel di tiap sudut di kursi kayu ruang makan, di seragam kerja yang masih tergantung di lemari, bahkan di kepala Wilano yang mulai sulit membedakan antara rindu dan benci. Dan suatu sore, saat langit menggantung kelabu dan gerimis turun perlahan, ledakan itu terjadi. "Gue bakal ke rumah Ayah bentar, mau ngobrol langsung," kata Rian pelan, mengambil jaketnya di gantungan. Suaranya hati-hati, tapi cukup untuk membakar emosi Seno yang sejak pagi sudah seperti bom waktu. "Ngapain lo ke sana?! LO PILIH DIA?!" Semua yang ada di ruang tengah menoleh. Suara Seno menggelegar, membuat udara di rumah seperti bergetar. Rian menoleh cepat, matanya melebar tak percaya. "Gue cuma mau bicara, Sen. Dia tetap ayah gue juga. Lo gak bisa larang gue ketemu orang yang selama ini ngerawat gue!" sahut Rian, nadanya naik. "Dia bukan ayah lo. Dia pengkhianat. Dan siapa pun yang masih mau bela dia... gak layak tinggal di sini." Suasana berubah tegang. Jaya berdiri setengah badan, siap menengahi kalau sewaktu-waktu keadaan makin memanas. Theo mengerutkan alis, tapi tetap tak banyak bicara. Wilano menatap semuanya dengan mata membesar. Dia tak mengerti, mengapa semuanya harus sejauh ini. Leon, yang sedari tadi diam, berdiri perlahan. "Kalau lo pikir begitu... gue ikut Bang Rian."

More details
WpActionLinkContent Guidelines