Peluk Aku Ibu

Peluk Aku Ibu

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 6, 2023
Keluarga,, katanya keluarga adalah rumah bagi setiap anak, ada yang setuju ada yang sebaliknya yahh,, seperti kebanyakan orang, keluarga juga bisa menjadi awal mula hancurnya seseorang yang lain dan tidak bukan adalah anak. Kita semua tau tidak ada orang tua yang ingin mental anaknya hancur tapi tanpa mereka sadari mereka penyebab semuanya hancur. Seperti anak kecil yang tengah meringkuk di sudut kamarnya "Praakkh!!" suara pecahan gelas "Kau tau gara gara anak sialan itu keluarga kita jadi hancur seperti ini" ucap seorang wanita setengah teriak "Gak usah bawa bawa anakku!!" ucap lelaki yang tengah menekan emosinya Terlihat tetes demi tetes air mata mengalir dari mata itu diiringi suara perdebatan yang tak kunjung mereda "Gubraaakkh!!" suara pintu kamar di buka paksa sembari masuknya wanita yang langsung mencengkeram kuat tangan anak itu dan terus menerus menariknya keluar "Ayaaaahhh" isaknya yang terus menatap sendu kearah ayahnya
All Rights Reserved
#656
brokenhome
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • Noda dalam Cinta
  • Kembar Berbeda || Haechan [TERBIT]
  •  HAZELA
  • Strongers Of Broken Home💔
  • AFKARA [END]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines