ANIRA RAVEENA

ANIRA RAVEENA

  • WpView
    Reads 55
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Oct 3, 2023
Terlalu banyak orang yang ku sayang meninggalkan. Hingga pada akhirnya aku terbiasa dengan kesendirian. Aku kira akan kuat menghadapi segala problematika hidup. Ternyata terlalu lemah diri ini Untuk menghadapi segala rintangannya. Perlu banyak air mata yang jatuh . Sering kali mengeluh karena terlalu lelah hingga rasa sesak di dada melanda dan membuat ku merasa terancam. Dulu selalu membutuhkan insan untuk menyembuhkan agar tidak selalu merasa sepi. Tapi aku terlalu gegabah. Nyatanya ketika dikeramaianpun aku masih selalu merasa sepi. Lantas insan seperti apa yang dibutuhkan? Yang membuat bahagia? Yang slalu ada?
All Rights Reserved
#70
romence
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • (1) HIM ✔
  • SECOND LEAD
  • Another Me
  • Semu [Completed]
  • GENTAWA✓
  • Backstreet
  • BALADA KEHIDUPAN
  • DON'T SO SAD
  • Rasa Tanpa Kata

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines