Natasya Zevarra

Natasya Zevarra

  • WpView
    Membaca 21
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Okt 10, 2023
WpInfo
Fiksi
Romansa
Kisah seorang gadis yang sudah biasa mendapatkan perlakuan kasar dari kedua orangtuanya. Seorang gadis tersebut sering mendapatkan pukulan, cacian, dan tamparan. Namun anehnya, gadis tersebut biasa menutupi seluruh lukanya dengan senyum dan tawa bahagianya. Mungkin sebagian teman-teman mengira bahwa Natasya anaknya sangat disayang oleh keluarganya. "Rumah? Aku cuman punya diriku sendiri." "Bahagia? Bahkan hidupku sudah sangat mati rasa." "Kalau bisa pendam semuanya sendiri, mengapa harus bercerita kepada orang lain?" Jangan tanyakan kepadaku, bagaimana rasanya kasih sayang dari kedua orang tua. Karena, aku tak pernah merasakan rasanya kehangatan keluarga. Bahkan, sepertinya orang tuaku hanya menganggap diriku sebagai layaknya seorang pembantu. Orang tuaku baik? Iya, karena ada kalian. Coba saja, jika tidak ada? Jangankan memberi uang jajan, memberi makan saja harus dibalas dengan mengerjakan sesuatu.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#331
brokenfamily
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Kami Tumbuh Dari Ledakan
  • I Will Change My Fate | By: soraya || Rora & Jungwon
  • Hai, Kak! (END)
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Memories in Moon
  • Kemana Arah Pulang?

Di sebuah rumah yang lebih sering berisik oleh bentakan daripada tawa, tiga anak tumbuh dari puing-puing cinta yang retak. Ara, si sulung yang belajar menjadi atap saat bapaknya lebih sering pergi ketimbang tinggal. Rei, anak tengah yang mencoba menjadi lelaki tanpa pernah punya contoh. Dan Zea, si bungsu yang bersembunyi di balik boneka bermata satu sambil bertanya dalam hati: "Apa semua rumah seperti ini?" Saat rumah yang dulu mereka sebut "pulang" tak lagi memberi tempat, satu per satu dari mereka harus memilih: tinggal dalam reruntuhan, atau membangun sendiri pondasi baru-meski dengan tangan gemetar. Ini bukan kisah keluarga yang sempurna. Ini kisah tentang bertahan meski tidak utuh, tentang anak-anak yang tak ingin mewarisi luka orang tuanya. Dan tentang keberanian untuk berkata: "Ledakan itu berhenti di sini." Karena tumbuh dari kehancuran... bukan alasan untuk mencintai dengan cara yang menyakitkan.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan