Kidung Rumeksa

Kidung Rumeksa

  • WpView
    Reads 54
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Tue, Oct 24, 2023
WpInfo
Fiction
Historical
Proklamasi yang berkumandang pagi ini, memicu kucuran keringat di dahi Armin dan ibunya. Pasalnya, mereka akan bernasib seperti kelinci buruan jika kembali menginjakkan kaki di Belanda karena cap pengkhianat yang membubuhi wajah mereka, namun mereka juga takut para pribumi akan menyerang "Londo" sebagai bentuk balas dendam. Di saat genting ini, seorang pejabat tinggi Indonesia mengunjungi mereka dan menawarkan izin tinggal sekaligus perlindungan jika Ibunya bersedia datang ke Batavia semalam setiap minggu. Setuju dengan tawaran itu, Ibu Armin pergi ke Batavia sesuai kesepakatan. Namun sekembalinya dari kunjungan yang pertama, perilaku sang ibu bak orang hilang akal. Apakah yang sebenarnya terjadi di Batavia? Dan mengapa ibunya melarang Armin melantunkan Kidung Rumeksa favorit mendiang ayahnya? Pascakemerdekaan Republik Indonesia #AnotherSecretStories AOT's Armin Arlert fanfiction
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Blood and Rose
  • masuk ke dunia CH?!{END}
  • DETECTIVE HUSBAND
  • Find My Way [Attack On Titan X Reader]
  • BATAVIA[Revisi]
  • Sedari Dulu - Armin Arlert x Annie Leonhart (Aruani)
  • [Lacrimosa]; Dara-Dara Runtuh
  • 𝐓𝐡𝐞 𝐋𝐨𝐬𝐭 𝐓𝐢𝐭𝐚𝐧 [𝐀𝐭𝐭𝐚𝐜𝐤 𝐎𝐧 𝐓𝐢𝐭𝐚𝐧 𝐗 𝐎𝐂]
  • ALVINO • HIATUS

[SPIN OFF ARUNA SERIES] Seluruh koran dipenuhi pembunuhan brutal yang meneror Batavia, pembunuhan yang membuat repot Gubernur Jenderal Hindia-Belanda selama satu minggu penuh. Lantas? Persetan dengan semua berita itu! Apa peduliku jika para Belanda itu kerepotan? Malah bagus kalau mereka pontang-panting. Tapi bukankah korbannya rata-rata gadis dengan rentang usia antara tujuh belas hingga dua puluh satu tahun? Gusti! Umurku kan dua puluh tahun! Kenapa aku malah tenang-tenang saja begini? Aduh, di mana otakmu ini, Rini? Baiklah aku harus waspada mulai sekarang. Apa perlu bawa kenes setiap kali keluar? Tidak, Rini, itu sama sekali tidak seperti seorang putri keturunan priyayi, tapi apalah bedanya priyayi, wong cilik, dan para ningrat di hadapan ifrit berdarah dingin? Ah aku jadi teringat Romo. Apa Romo baik-baik saja di Batavia sana? Aduh, aku sedang melamunkan apa gerangan? Kenapa aku repot-repot memikirkan kota lain sedangkan di sini aku masih punya ibu yang harus diurus? Lalu Gusti, kalau boleh meminta petunjuk, tolong beri aku petunjuk siapa sebenarnya laki-laki edan yang mendadak nongol di rumahku tengah malam ini? Kenapa dia memakai baju seperti orang Belanda? Lantas nama aneh macam apa itu? Ah ya, siapa namanya kalau tidak salah? Oh ya, Zen. Nama aneh macam apa itu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines