I Just Wanna Say Something

I Just Wanna Say Something

  • WpView
    Membaca 11
  • WpVote
    Vote 0
  • WpPart
    Bab 1
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Des 19, 2023
Langkah kaki itu dengan tegas beranjak, meninggalkan tempat yang memberinya pelajaran. Jika tidak selamanya perjuangan itu berakhir dengan kemenangan. Nyatanya ia kalah dalam perjuangannya. "Hey.." Teriakan itu, membuat nya terpaku sejenak. " I Just Wanna Say Something," Lanjut teriakan itu. Seolah tau apa yang akan di katakan. Kaki itu melanjutkan langkahnya dengan cepat, dan menghilang di balik. Lalu lalang orang, dan itu lah kali Terakhir sosok yang beteriak itu melihat orang yang mengilang di balik lalu lalang orang itu. Mungkin kah ini adalah keinginan semesta. Untuk Mereka berpisah seperti ini, atau akan kah semesta mempersatukan mereka lagi. Tidak ada yang tau. Mungkin ini adalah permainan semesta untuk perjalanan mereka. Semua sudah di rencanakan Semesta.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#118
öm
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Ruined Bitch
  • Miss You Love
  • Toxic Relationship
  • Bad CEO (21+)
  • 𝙻𝚘𝚟𝚎 𝙶𝚘𝚒𝚗𝚐 𝙽𝚘𝚠𝚑𝚎𝚛𝚎
  • (Re) - Married (completed)
  • HURT ✅
  • Gadis Bukan Perawan [ Complete ]
  • TAK BERSAMBUT

⚠️ Cerita ini mengandung konten muatan dewasa, tidak direkomendasikan dibaca oleh anak di bawah usia 18 tahun. BLURB - Ruined Bitch Sekar tahu dunia tempatnya berpijak tidak pernah ramah bagi wanita sepertinya. Hidup mengajarinya untuk tidak berharap terlalu banyak, terutama dari pria. Baginya, hubungan hanyalah transaksi-permainan di mana kendali harus tetap berada di tangannya. Sampai ia bertemu pelanggan spesial itu. Marshal Wijaya, pria yang dingin dan berbahaya, bukan tipe yang mudah terbaca. Ia tidak sekadar membeli waktu Sekar, tetapi juga merenggut sesuatu yang lebih dalam. Sentuhannya mengancam pertahanan yang selama ini Sekar bangun. Tatapannya seakan ingin menelanjangi lebih dari sekadar tubuhnya-ia ingin masuk ke dalam pikirannya, mencuri perasaan yang seharusnya tidak ada. Semakin Sekar berusaha menjaga jarak, semakin kuat tarikan yang mengikat mereka. Marshal menginginkannya lebih dari sekadar bayaran, sementara Sekar tidak yakin apakah ia siap kehilangan kendali. Ketika batas antara transaksi dan keterikatan mulai kabur, Sekar harus memilih: bertahan dengan tembok yang melindunginya, atau membiarkan dirinya jatuh-meski itu berarti hancur dalam genggaman pria yang bisa saja menghancurkannya lebih dari siapa pun. Karena dalam permainan seperti ini, tidak ada yang benar-benar menang.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan