Terikat Senja

Terikat Senja

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 28, 2023
"Kenapa kamu sembunyi?" tanya Pira sembari menahan air mata yang hampir jatuh. "Biar kamu menemukan rumah, karena aku cuma Elang yang bisanya berpetualang sampai lupa tempat pulang" Teriak Asta yang berada di seberang jalan dari Pira. "Kamu lihat senja itu" bersamaan dengan tangannya menunjuk senja di barat sana, air matanya juga turun dan membanjiri pipi meronanya "Ia adalah tempat pulang semua penghuni bumi, termasuk Elang". Asta hanya diam, air matanya jatuh dan terbumikan. Pulang atau kembali berpetualang, entah jawaban mana yang bakal Asta pilih karena keduanya mampu memberi ia tenang yang paling dalam. NB: Novel ini juga bisa dibaca via pf Fizzo.
All Rights Reserved
#471
hts
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Harmoni Ombak Dan Lensa [LENGKAP]
  • Rain And Tears [Proses Revisi]
  • LANGIT SENJA  (End)
  • Senja di Bandung
  • Senja Di peluk Awan
  • ALTAR RASA | END ✓ |
  • Langit Yang Tak Lagi Biru
  • Senja dan Langitnya
  • Alkara ( Terbit)

Aruna Elina, seorang gadis remaja berusia 17 tahun, selalu menemukan ketenangan di pantai-tempat ia merasa bebas dari bayang-bayang penyakit jantung bawaan yang selama ini membatasi langkahnya. Dengan kamera di tangannya, Aruna menangkap setiap momen: senja yang hangat, jejak ombak di pasir, dan burung camar yang terbang bebas. Bagi Aruna, setiap jepretan adalah cara untuk mengabadikan keindahan dunia yang mungkin tidak selamanya bisa ia nikmati. Suatu hari, di salah satu perjalanan ke pantai favoritnya, ia bertemu dengan Aksa, seorang pemuda pendiam yang gemar melukis pemandangan laut. Aksa, yang awalnya terlihat dingin dan misterius, perlahan mulai membuka diri kepada Aruna. Lewat percakapan mereka, Aksa mengungkapkan bahwa ia pernah kehilangan adiknya yang memiliki kondisi serupa dengan Aruna. Dalam waktu singkat, keduanya saling memahami dan menemukan kedamaian dalam kehadiran satu sama lain. Namun, kondisi Aruna semakin memburuk, dan harapan untuk menjalani operasi transplantasi jantung semakin kecil. Meskipun begitu, Aruna tidak ingin menyerah pada rasa takut. Bersama Aksa, ia membuat daftar impian sederhana yang ingin diwujudkan-dari menyaksikan matahari terbit di puncak bukit hingga menggelar pameran foto bertema "Hidup dari Mata Seorang Pengamat." Dalam perjuangannya, Aruna belajar bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita memilikinya, tetapi bagaimana kita mengisinya. Di tengah senja terakhir yang ia abadikan, Aruna menemukan arti cinta, keindahan, dan keberanian yang lebih besar dari semua keterbatasannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines