RUMAH PENGANTAR KEMATIAN

RUMAH PENGANTAR KEMATIAN

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Oct 13, 2023
Karena terhimpit masalah ekonomi keluarga, menyebabkan Santo yang merupakan mahasiswa perantauan tingkat akhir memutuskan pindah dari kos-kosan lamanya ke sebuah rumah kos yang jauh lebih terjangkau demi menakan pengeluarannya. Setelah beberapa hari mencari, sampailah Santo menemukan sebuah rumah kos itu. Harganya jauh lebih terjangkau dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Pak Suyono, pemilik rumah kos, menyambut baik kedatangan Santo. Tanpa banyak menimbang, Santo membayar lunas uang sewanya selama tiga bulan. "Semoga betah dan kerasan." ucap Pak Suyono kepadanya. Memang, awalnya Santo merasa kerasan tinggal di sana, tetapi semakin lama, hal-hal tidak wajar mulai berdatangan menyebabkan Santo merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di rumah kos itu. Teror demi teror pun terjadi, menghantui dan memaksa Santo menikmati semua itu.
All Rights Reserved
#39
rumahangker
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Perjamuan Keempat Belas
  • Geist | Treasure
  • Teror sinden (Liburan Telaga Tengah Alas)
  • 𝗔𝗟𝗜-𝗔𝗟𝗜 𝗞𝗘𝗠𝗕𝗔𝗡𝗚 𝗞𝗘𝗡𝗢𝗡𝗚𝗢
  • 7 Malam Setelah Nenek Meninggal (TAMAT)
  • [Kutukan] Arwah Penghuni Rumah Angker (EXTENDED)
  • The Secret Of Diary
  • 30 Days Haunted (SVT x NCT 127 x OC)
  • DESA TANPA SIANG

Tak semua yang duduk di meja itu masih hidup. Tak semua yang hadir, datang dengan kemauan sendiri. Setiap malam bulan gelap, keluarga besar Raka berkumpul di rumah leluhur yang terkubur waktu dan debu. Di sana, mereka mengulang sebuah perjamuan kuno-tanpa kata, tanpa cahaya selain lilin, dan tanpa alasan yang pernah dijelaskan. Saat Raka datang untuk pertama kalinya, ia ditempatkan di kursi terakhir. Keempat belas. Tapi piringnya selalu kosong, dan tidak seorang pun menyapanya. Ia berpikir itu hanya tradisi aneh... sampai ia menemukan foto seorang pemuda yang wajahnya mirip dengannya-seseorang yang seharusnya duduk di tempatnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines