Pengantin Pesanan

Pengantin Pesanan

  • WpView
    Reads 11,605
  • WpVote
    Votes 149
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 28, 2026
Warning cerita 🔞 Adegan & gambar dewasa ❗❗ Dinikahi hanya untuk menjadi bank anak. Keanan dan Sandra. Jihan. Gadis itu ditinggalkan hidup di pedesaan mengurus peternakan, dapur dan mertuanya yang mulai sakit-sakitan dengan identitas yang disembunyikan hingga kehamilannya semakin tercium. Keadaan semakin pelik ketika ibu mertuanya menyelamatkan Jihan karena dianggap hamil di luar nikah. Sementara Keanan memintanya bungkam sampai bayi itu lahir. "Tidak punya mulut untuk bicara." 3 bulan setelah perutnya membesar. Keanan seperti laki-laki egois. "Ceraikan saja aku, Kean." Tuntut Jihan juga merubah laki-laki itu mulai terobsesi padanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mr. & Mrs Albrecht
  • Crazy, But She's Mine(21+)
  • Istri Mudaku
  • Padam Nelangsa
  • SAH (Menikah Dengan Mantan)
  • WEDDING VOWS
  • Someday
  • The Baby's Contract✓
  • Perpindahan Dimensi Sang Penulis
  • MY BABY

Arga baru saja melangkah keluar kamar, ponsel yang sempat tertinggal kini sudah di tangan. Namun begitu ia membuka pintu, langkahnya terhenti. Sosok itu sudah berdiri di ambang pintu-dengan senyum licin yang terselip di sudut bibir merah basahnya. "Mas, sebentar..." ucapnya lirih, lalu tanpa ragu memutar kunci pintu hingga terdengar bunyi klik yang terasa nyaring di tengah keheningan. Ia lalu berbalik, perlahan, seperti sengaja mempermainkan waktu. Tatapannya menusuk tajam, lembut tapi memabukkan. Langkahnya mendekat, tumit sepatu kecilnya menjejak lantai dengan bunyi halus yang menggema di kepala Arga lebih dari yang seharusnya. Ia mendekat... dan terus mendekat-hingga napasnya menghangat di kulit wajah Arga. Saat jarak hanya tersisa desah, ia berjinjit lalu melingkarkan tangannya ke leher Arga. Tubuh mereka kini bersatu tanpa celah, dan hidung mereka bersentuhan. Arga yang refleks merangkul pinggang ramping itu tahu, ini adalah awal dari sebuah ujian yang tak diajarkan di kitab-kitab kuning pesantren. "Aku lagi pengen, Mas. Sekarang," bisiknya nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat darah Arga mendidih pelan. Bibir itu mencium bibirnya-hangat, basah, berani. Bukan ciuman biasa. Ciuman perempuan yang tahu pasti bagaimana caranya merobohkan benteng pertahanan laki-laki yang selama ini berdiri dalam istighfar. Arga sempat hanyut, meski sesaat. Tapi nurani santrinya masih hidup. Ia menarik diri perlahan, menyisakan napas yang masih beradu, dan dekapan yang belum ingin dilepas. "Jangan di sini... rumah Ayah, nanti mereka nunggu kita kelamaan," bisiknya, berusaha terdengar tenang padahal dadanya bergemuruh. "Mereka pasti ngerti. Kita suami istri, kan?" bisiknya menggoda. "Sekali aja, Mas... aku udah nahan dari tadi. Aku pengen kamu. Banget." Arga menunduk. Nafasnya dalam. Istighfar meluncur di batin, cepat dan berulang. Tapi yang satu ini bukan setan-ini godaan yang berwujud indah, harum, dan nyata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines