Tulisan dari Dhia

Tulisan dari Dhia

  • WpView
    Reads 195
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 24, 2023
ku tau, bahwa ini hanyalah tentang waktu. Aku banyak membaca cerita-cerita bahkan menonton mereka-mereka, orang-orang yang sama sepertiku. Terbelenggu dalam kepergian yang disebabkan sendirian, tertanam dalam perasaan yang membuatku terjebak beratus-ratus harinya, bukanlah sebuah perjalanan yang mudah dijalani. Aku menemukan banyak orang, menemukan banyak perasaan, namun yang pasti dari itu semua hanyalah aku yang tak bisa merasakan perasaan yang sama. katanya, hidup harus terus mengalir, sampai kamu diberhentikan sendiri. Jangan terpaku bahwa hatimu ada pada dunia yang lain, sebabnya duniamu ada padamu. Tapi mereka tidak tau, bahwa ketika satu dunia dijalani berdua, indahnya melebihi fatamorgana. Peringatan : Lebih baik membaca ini saat perasaan membaik dan juga tak ada kegiatan, sebab cerita ini mungkin akan membawa beberapa dari kalian menelusuri bahwa waktu tanpa kepercayaan adalah sebuah kebohongan.
All Rights Reserved
#487
perasaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)
  • My Imagination : Love Without Problem
  • Dear Dirga
  • Imagination
  • True Life, True Love ☘︎ (𝐶𝑜𝑚𝑝𝑙𝑖𝑡𝑒𝑑)
  • Khayalan gadis |√
  • LOVE OF THE PAST
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • 02.60 [ 𝐄𝐍𝐃 ]

SEGERA DITERBITKAN Sebenarnya ini adalah idenya Liaa. Entah apa yang merasuki otaknya kali ini, sehingga memintaku untuk menulis. Aku tidak pandai merangkai kata-kata, apalagi menyelesaikan suatu cerita. Tidak seperti Liaa yang sangat menikmati saat-saat merangkai setiap paragraf dalam mengembangkan idenya. Bersenandika, mengolah diksi, menulis berbagai tema, dan menuntut pancaindra agar lebih peka. Bila satu paragraf saja membuatku termenung berlama-lama, apalagi satu novel yang sampai beratus-ratus halaman tebalnya. Aku bisa gila, Liaa. Namun, gadisku yang cerewet dan berambisi besar itu pasti akan memprotes, "Kamu pasti bisa, kok, jangan pesimis, deh! Belum apa-apa udah ngeluh. Nulis itu gampang, cuma kamunya aja yang gak mau usaha!" Begitulah Liaa, dia 'illfeel' dengan orang yang angkat tangan sebelum berjuang. Alih-alih memotivasi, malah muncrat juga omelannya. "Iya, Liaa. Jangan ngambek, aku cium, nih!" Ancamanku membuat pipinya seketika memerah bak kepiting rebus. Aku sangat buruk dalam mengembangkan ide cerita. Jauh dibanding Liaa yang bisa menyelesaikan dua novel sekaligus. Ya, novel-novel itu adalah kisah kami yang dia tulis. Tugasku cukup diam dan jangan membuatnya marah. Jika tidak, Liaa akan berhenti menulis dan mengomel seperti ibu-ibu kostan. Karena sejatinya waktu terbaik untuk menulis adalah 'mood' yang baik.

More details
WpActionLinkContent Guidelines