Monolog Arumi

Monolog Arumi

  • WpView
    LECTURAS 88
  • WpVote
    Votos 30
  • WpPart
    Partes 7
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación sáb, nov 11, 2023
Tidak bisakah kehidupan sesederhana itu? Sesederhana saling menjaga dan tidak berkhianat. Rumah yang menjadi tempat pulang justru membuatnya mendefinisikan cinta seolah sebuah fase menuju terluka. Arumi takut untuk jatuh dalam rasa itu. Namun, suatu ketika seorang lelaki dengan kata berandalan yang tersemat dalam dirinya datang menawarkan kebahagiaan dan meyakinkan cinta tidak seperti yang dirinya lihat. Haruskah Arumi percaya, bahkan di saat tidak ada kebaikan yang terdengar tentang lelaki itu?
Todos los derechos reservados
#31
cewekjutek
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Puing luka
  • ALUNA
  • Yang Tak Pernah Ada
  • Marakarma
  • A L U N A [END]
  • SELF LOVE
  • Dua Rasa [ END ]
  • Altezza Reiki ( REPOST ULANG)
  • WUNDE ( Selesai )

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido