Amerta dalam Aksara

Amerta dalam Aksara

  • WpView
    Reads 130
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 16, 2025
Perkara Berjarak Nyata namun fana. Di bawah langit yang sama, namun beda pijakan. Ada banyak bayang buyar. Ada juga memori berlalu lalang di dalam sel ingatan. Bermodal materi, waktu, hati, dan kepercayaan. Berusaha menjadi yang terbaik untuk diri sendiri. Mengejar kebahagiaan tanpa meminta. Telepon genggam berperan menjadi sosok yang selalu menggenggam. Barang sentimental lain juga bisa berperan menjadi obat rindu. Kalimat "aku percaya padamu" menjadi pondasi. Sesungguhnya kata "percaya" itu berat bagiku. Kuputuskan mengucapkan kalimat yang sama padamu agar membuatnya ringan. Perkara jarak tak masalah. Nyatanya rasa ini lebih kuat ketimbang jika ada sosok yang selalu didepan mata. Dewasa, tulus, dan ikhlas, menjadi buah manisnya kelak. Terima kasih, telah jauh di raga. Terima kasih, telah melekat di jiwa. Tetaplah berjuang denganku. -nona
All Rights Reserved
#271
15
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • ALBARA - (Jatuh Cinta Itu Lucu)
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Saat Cinta Tak Terucap
  • Mahligai Sunyi
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Ex or New? [REVISI]
  • Traces in the Light
  • Rasa Yang Tidak Tersampaikan
  • Saat Janji Menjadi Luka (OnGoing)
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines