Aku, kamu dan logika

Aku, kamu dan logika

  • WpView
    LECTURES 22,337
  • WpVote
    Votes 1,182
  • WpPart
    Chapitres 29
WpMetadataReadContenu pour adultesEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., juil. 5, 2026
WpInfo
Fiction
LGBTQIA+
Lesbienne
Coming Out & Acceptation de soi
Asexuel & Aromantique
"I can't sya, aku ga bisa meneruskan lagi kisah kita... kamu sudah bukan tujuan ku lagi" Suara Clara yang lembut itu seperti ribuan anak panah yang baru terlontar dari busurnya. Menusuk melalui telinga hingga menembus ke hati Masya. Rahangnya mengatup. Tatapan matanya setajam mata elang memandang gadis di depannya. Gadis yang sangat di cintai sepenuh hati, namun sekarang menjadi alasan kehancuran hatinya. Api terasa membara membakar hatinya. "baik... ayo kita akhiri semua ini Clara" kata Masya, suaranya sedikit bergetar dan berat, mencoba sekuat tenaga menahan perih. Kata itu terlontar begitu saja dari bibirnya, buah dari hati dan perasaannya yang terluka. Clara terpaku menatap Masya yang sedang menatapnya penuh luka, ia pun sama terlukanya seperti Masya. dia juga sangat mencintai Masya bahkan sampai detik ini. Namun kisah ini harus di akhiri. Harus! Seperti yang bunda minta, dia harus terlahir kembali dan melupakan Masya seakan seorang Masya Abigail tak pernah ada di hidupnya.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • 3. Cerita Etalase dan Tempat Tidur GXG (END)
  • Semesta (offGun)
  • ELGITA: Yang Tak Pernah Terucap (END)
  • Perempuanku | I'm And My Lady (s) II
  • Please....Beside Me  (Sudah Tersedia Ebook Ya)
  • Crush
  • Impossible
  • The Butterfly's Secret {GXG}

18+ Atau mungkinkah kamu hanya butuh sebuah pasak? Sesuatu yang membuatmu bertahan pada satu saat di tengah-tengah waktu yang berputar. Sehingga rumah bukan lagi ruang transit, tapi pulang." Diang tersenyum. Ia selipkannya sehelai rambut di belakang telinganya, dari sudut matanya setetes air mengalir turun. "Lalu bagaimana?" bisiknya. Matanya membawaku pada perasaan rindu. Begitu luka, begitu haru. Aku menangkupkan telapak tanganku pada tulang pipinya yang tegas. Lalu kucium dia. Bibirnya. Kuhirup bau wajahnya. Kuhisap air liurnya. Ia berhenti bernafas. Pupil matanya melebar. "Kamu cantik, kenapa menjadi pelacur?" Perempuan ini bertanya. Ia menggulung rambutnya sehingga aku dapat dengan jelas memindai rambut-rambut halus yang berbaris dan bentuk tengkuknya yang langsing. "Kamu begitu sopan, mengapa menyewa pelacur?" tanyaku.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu