Jenna Avyanna Rajendra tumbuh dengan dunia di bawah telapak kakinya. Uang, kebebasan, dan kemewahan selalu datang tanpa perlu diminta. Pendidikan luar negeri, party tanpa batas, club malam, dan nama besar keluarga Rajendra membuatnya percaya bahwa hidup adalah miliknya untuk dimainkan, bukan diatur.
Namun kepulangannya ke Jakarta mengubah segalanya.
Ia dijodohkan dengan Elzein Arshaka Lesmana, putra dari ajudan ayahnya yang puluhan tahun mengabdi pada keluarga Rajendra. Seorang laki-laki sederhana, berbeda dunia, berbeda kelas, dan sama sekali bukan tipe hidupnya.
Jenna menolak diatur, dan Zein tak pernah bermimpi memilikinya.
Bagaimana jika istrimu adalah bosmu sejak kecil? Dan cintamu tumbuh di antara kewajiban, balas budi, dan perasaan yang seharusnya tidak pernah ada?
"Gue bos lo, dan jangan pernah berpikir karna pernikahan sialan ini lo jadi punya hak buat ngatur hidup gue." -Jenna
"Saya tau Non Jenna, saya nggak pernah lupa posisi saya. Saya cuma anak seorang ajudan, yang rumahnya jauh dari kata mewah, dan namanya bahkan nggak berarti apa-apa di dunia Non Jenna." -Zein
"Stop ikutin aku!!"
Langkah yang semula pelan menjadi tergesa saat Hera melihat Laki-laki di belakangnya yang terus mengikutinya.
"No, Love. I want to make sure you're okay"
"Kita udah putus Je! jangan ganggu aku!"
"I never agreed to it"
Dia Helera Varadisa gadis pintar yang banyak di kenal di sekolahnya dengan ciri khasnya pita biru yang selalu tampil cantik di rambutnya.
Kehidupannya yang awalnya hanya seputar belajar, membaca, dan menulis berubah lebih menyenangkan kala ia bertemu dengan Jerald Van Derico.
Laki-laki yang kehidupannya bertolak belakang dengan Helera, Jerald bukan anak yang terkenal karena kepintarannya ia justru dikenal karena sering membuat keributan dengan teman-temannya.
Meski begitu Hera senang menjalin hubungan dengan Jerald, meski harus dengan keadaan backstreet.
Awalnya semula Hera yakin kisah masa abu-abu nya memang lebih manis setelah mengenal Jerald, sebelum sesuatu terjadi menghancurkan keyakinan Hera.
"Je kamu beneran belum punya pacar kan?"
Jerald yang di beri pertanyaan itu dengan tegas menggeleng sebagai jawaban.
Setelah melihat dengan jelas interaksi Jerald dengan gadis itu Hera menggelengkan kepalanya pelan.
Hera segera pergi dari tempat itu, ia tak ingin membiarkan hatinya lebih lama lagi merasa sakit.