Ada aksara dalam sebuah metafora. Percikan merah dalam gesekan kelabu. Berbaur dalam intonasi yang tentunya tak tersalurkan. Ada emosi, imajinasi, bahkan konspirasi. Terserah apa yang ingin disampaikan. Ini bukanlah sebuah kisah yang tersaji dalam barisan kata. Ini hanyalah sajian emosi yang terikrar dalam deretan prosa. Bukan ancaman, bukan juga tiruan, melainkan aduan. Cicilan-cicilan masalah yang satu persatu disalurkan sebagai bentuk keluh kesah. Untaian diksi yang memercikkan nyala api yang sempat bungkam. So, ini hanyalah kata-kata kunoku yang sudah menumpuk. Setiap bait kata memiliki kisah yang berbeda. Ini curhatan sih sebenarnya. Cuma aku nggak pede kalo nulis-nulis kayak ke diary gitu. Kontras rasanya. Kayak gimana, ya? Bagiku kayak nggak bisa dijadiin bacaan aja gitu. Kalo diary 'kan pas dibaca ulang jadinya malah malu. 'Ih aku kok gini dulu, ya?' Kayak gitu kesannya.
More details