Story cover for Sentripetal by RifkyMaulana13
Sentripetal
  • WpView
    MGA BUMASA 90
  • WpVote
    Mga Boto 21
  • WpPart
    Mga Parte 3
  • WpView
    MGA BUMASA 90
  • WpVote
    Mga Boto 21
  • WpPart
    Mga Parte 3
Ongoing, Unang na-publish Oct 29, 2023
Fadil membanting ponselnya ke kasur, menarik napas panjang yang terasa berat. Lagu di playlist-nya memutar ingatan tentang Dira, dan rasanya seperti dipaksa menelan bara. Kenapa dia masih di sini, di kepalanya, setelah semua ini?

"Berpisah mudah, berpisah mudah. Tai!"

***

"Aku gak bisa," gumam Dira, menyeka air mata yang tak mau berhenti mengalir. Sejak Fadil pergi, segalanya seperti berhenti-waktu, tawa, bahkan hidup yang dulu penuh harapan.

Move on tidak pernah semudah kelihatannya. Dira dan Fadil tahu itu. Tapi saat semua kenangan masih menggantung seperti kabut yang tak mau pergi, bisakah mereka benar-benar melepaskan satu sama lain?


-2023
All Rights Reserved
Sign up to add Sentripetal to your library and receive updates
o
Mga Alituntunin ng Nilalaman
Magugustuhan mo rin ang
Magugustuhan mo rin ang
Slide 1 of 9
KARAFERNELIA  cover
Lika-Liku Luka Lara cover
Saat Cinta Tak Terucap cover
Kapal Tanpa Nakhoda | Selesai cover
Broken melodies cover
1. Semesta dan Lukanya [TERBIT] cover
DASAR, LAUT!! [ON GOING] cover
Lika Liku Luka cover
MAFIA FAMILY ||SVT||✔ cover

KARAFERNELIA

48 parte Ongoing

Cerita ini menggambarkan perjalanan emosional Bryan dan Alesha serta dampaknya pada anak-anak mereka, menggambarkan kebahagiaan di tengah kesedihan dan harapan untuk masa depan. .... Raka berdiri di tengah kamar, wajahnya merah dan napasnya memburu. "Lu mending keluar dari kamar gue sekarang juga! Lu cuma ganggu gue, tau nggak? Bicara yang penting-penting aja, jangan cuman bikin ribut!" ujarnya dengan emosi memuncak. Bian, yang sudah lelah dengan suasana tegang, menjawab dengan nada kesal, "Biasa aja napa sih? Iya, iya, gue keluar. Gue nggak akan ganggu lo lagi." Dengan geram, Bian membuka pintu dengan keras dan menutupnya sampai bergetar. Kamar itu kini hening. Raka berdiri diam, meresapi kesunyian yang menggigit. Di sudut kamar, dia membiarkan air mata menetes perlahan, wajahnya tersembunyi di balik tangan. Dalam isak tangisnya, dia berbisik, "Gue nggak benci, gue cuma kangen. Gue pengen banget ngerasain pelukan dari sosok ayah, tapi dia udah punya keluarga sendiri, jadi gue nggak bisa ganggu dia." Raka merasa frustasi dan terpuruk, merasakan setiap detik beratnya kepergian dan kekosongan yang ditinggalkan. Seperti jejak langkah yang meninggalkan bekas, kenangan itu terus menghantui dan menyisakan luka dalam hati.