THE END : APOCALYPSE

THE END : APOCALYPSE

  • WpView
    Reads 80
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 24, 2023
WpInfo
Fiction
Science Fiction
Memangnya kalian yakin bumi akan bertahan selama itu? Memangnya kalian yakin kalau kita hidup sendiri? Memangnya kalian yakin hari kiamat masih diujung jalan? Tau dari mana? Bagaimana kalau bumi dilanda bencana besar? Bagaimana ternyata Ilmuwan benar bahwa kita tidak sendiri? Bagaimana ternyata kiamat yang dimaksud itu hanya menunggu waktu untuk segera 'meledak'? Aku masih 17 tahun ketika tau bahwa dunia kerja se-gila itu. masih anak magang yang hanya tau "Siap, pak!" kala itu. Masih tidak sadar ternyata semuanya dipersiapkan untuk satu hal. Satu hal yang tak ku kira menjadi ancaman bahkan untukku dan keluargaku sendiri. Kalian tau? Harusnya para dewa tetap berdiam di tempatnya, harusnya para tentara dan tokoh dunia yang sudah tiasa tetap di persemayamannya, harusnya makhluk hidup tidak diubah bentukannya. Harusnya. Tapi, aku masih tidak mengerti... apa yang membuat mereka menciptakan kekacauan se-demikian rupa dengan alasan klise seperti itu? jika ini akhir, maka aku tau. Aku adalah salah satu tersangkanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Evanescent [END]✓
  • Mala (END)
  • THE DEATH TARGET
  • ɪ'ʟʟ ᴛᴀᴋᴇ ᴄᴀʀᴇ ᴏꜰ ʏᴏᴜ  < Slow Up >
  • Foreign Virus (LENGKAP)
  • BAM || Betapa Aku Mencintaimu (End)
  • 7 Days To Survive
  • FROM SCHOOL TO CITY (END)
  • Recurring Abyss | Volume 0

Dua pejuang terkuat adalah kesabaran dan waktu. (BELUM REVISI) ~•~ Katanya, waktu bisa menyembuhkan segalanya. Tapi bagi sebagian orang, waktu hanya membuat luka belajar berdiam lebih dalam. Di antara pertemuan geng Renoir dan Otakata, waktu seolah sedang menulis sesuatu yang tak bisa dihindari. Rahasia masa kecil yang terkubur akhirnya muncul, membawa Ola kembali pada sesak yang lama ia pura-pura lupakan. Dunia di sekitarnya pun terasa kian sempit, penuh orang yang menukar kasih dengan harta, dan keluarga yang menuntut balas budi seolah cinta punya harga. "Katamu, semakin kamu menyayangi seseorang, semakin kamu ingin bersembunyi darinya. Sekarang aku mengerti," bisiknya lirih. "Aku menyesal ... menyesal karena tidak pernah benar-benar memahamimu." Dan di bawah langit yang bisu, hanya kata maaf yang tersisa, sebab semuanya sudah terlambat, tenggelam bersama waktu yang tak pernah memihak.

More details
WpActionLinkContent Guidelines