Algoritma Mahabbah

Algoritma Mahabbah

  • WpView
    Reads 90
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Nov 18, 2024
"Bila rindu telah menjadi kelabu, maka cinta akan datang dengan membawa segudang warna," tulis Asraf di atas selembar kertas yang akan diberikan kepada kekasihnya, Hifza Azizah. Hubungan cinta tanpa ankara nafsu telah dijalani bersama. Hanya saja, hubungan mereka berdua berdikari di atas saujana renjana dalam satu almamater yang sama namun dengan tempat yang berbeda. Senandung mahabbah dan larikan suratlah yang dapat menghubungkan kedua hati mereka berdua yang terpisah tanpa saling bersua dan bersemuka. Lantas, apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka berdua selanjutnya? Apakah hubungan Asraf dan Hifza akan tetap berjalan semestinya, atau justru sebaliknya?
All Rights Reserved
#129
cintaislami
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Dalam Iman
  • AZALEA
  • Dia dan Doa
  • Reunara
  • AZALEA
  • Assalamu'alaikum! Wahai Imamku!
  • Syair Cinta Az Zahra
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • Arafah
  • Imam dari Sepertiga Malam

Azha tidak pernah menyangka bahwa langkah pertamanya di pesantren akan mempertemukannya dengan Muaz-santri yang dingin, pendiam, dan selalu terlihat serius dengan hafalannya. Sejak awal, mereka berada di dunia yang berbeda. Muaz sibuk dengan hafalannya, sedangkan Azha berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Namun, takdir selalu punya cara unik untuk mempertemukan dua orang yang seharusnya berjalan di jalur masing-masing. Tatapan yang tak sengaja, pertemuan di tempat yang tak terduga, hingga percakapan-percakapan kecil yang membuat Azha menyadari bahwa Muaz tidak sekeras yang terlihat. Di antara hafalan dan kesibukan pesantren, Azha mulai memahami bahwa ada jeda di antara mereka-sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Jeda itu bisa berupa harapan, doa, atau bahkan perasaan yang perlahan tumbuh namun tak bisa diungkapkan. Tapi ketika waktu mulai memisahkan mereka, Azha dan Muaz harus menghadapi kenyataan bahwa tidak semua perasaan bisa menemukan jalannya sendiri. Apakah keduanya akan tetap berada di jalur masing-masing, ataukah takdir akan membawa mereka kembali bertemu di titik yang sama? Sebuah kisah tentang perasaan yang terpendam, tentang ketulusan dalam diam, dan tentang bagaimana Allah selalu punya rencana terbaik di setiap jeda yang tercipta. 🕐 UPDATE SETIAP SELASA & MINGGU

More details
WpActionLinkContent Guidelines