Hilangnya Cinta di Galeri Seni

Hilangnya Cinta di Galeri Seni

  • WpView
    Reads 53
  • WpVote
    Votes 11
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 2, 2024
"Kamu siapa? Mengapa engkau mencium keningku? Mengapa engkau menangis? Dan di manakah Leo?" Bagai dihantam palu godam dan tersambar petir di siang hari, Hati pria malang itu seketika remuk. Napasnya tercekat dan lidahnya terasa keluh. Tangan yang ia gunakan untuk memeluk tubuh mungil wanita tersebut seketika terlepas. Tak ada tatapan penuh cinta di mata sang wanita, yang ada hanyalah tatapan asing dan kebingungan. *** Feyrin dan Darell merupakan sepasang suami isteri yang sama-sama menyukai seni, utamanya seni lukis. Tak heran jika hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu dengan melukis bersama di studio lukis. Yang mereka sebut Blesser & Amour. Hari-hari mereka dipenuhi dengan keromantisan dan kebahagiaan. Karena banyaknya kesamaan yang dimiliki, membuat mereka tidak susah menyesuaikan diri satu sama lain. Namun, usai sebuah kejadian menimpa mereka, situasi seketika berubah 180°. Tak ada lagi keromantisan dan cinta yang menghangatkan studio lukis. Dingin dan hampa, itulah yang kini tersisa di sana. "Feyrin Sayang, aku mohon kembalilah."
All Rights Reserved
#347
lukisan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Soft Flesh and Gentle Strokes
  • The Art of Remembering You
  • The Secret Of Us
  • An Art Gallery [END]
  • FALLING IN LOVE
  • Legato and Staccato
  • Let's Go Home!
  • A Scratch For Sanguinis [Orine]

Setiap malam, Haruki berdiri di bawah cahaya studio-hanya dengan sehelai kain atau bahkan tanpa apa pun untuk menutupi tubuhnya. Leo seharusnya hanya melihatnya sebagai model. Sebagai inspirasi. Tapi setiap lekuk, setiap helaan nafas Haruki menuntut lebih dari sekadar sapuan kuas. Dalam denting napas dan desir kulit, seni dan hasrat bertabrakan, membentuk mahakarya yang tak pernah mereka rencanakan: cinta yang liar, panas, dan tak terucapkan. Saat batas antara seniman dan subjek hancur di ranjang yang berserakan cat, satu pertanyaan tersisa-apakah rasa ini hanya sekedar gairah, ataukah ini adalah satu-satunya kebenaran yang mereka punya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines