Saat Park Jimin pindah dari Las Vegas ke Seoul, ia tak menyangka bahwa kalimat paling sulit untuk diucapkan bukanlah dalam bahasa Korea-melainkan perasaannya sendiri. Di sekolah barunya, ia bertemu Min Yoongi, siswa dingin yang diam-diam menyimpan hangat yang paling tulus. Mereka berbicara lewat terjemahan digital, tatapan diam, dan catatan kecil yang tak sengaja menyentuh hati. Dalam dunia yang dipisahkan oleh bahasa dan budaya, keduanya perlahan belajar bahwa cinta selalu menemukan caranya sendiri untuk dimengerti. Dan kadang, menjadi "fasih" bukan soal kata-kata-tapi keberanian untuk merasakan. A Soft, Wholesome, Light story.
Detail lengkap