Monolog Rindu

Monolog Rindu

  • WpView
    Membaca 56
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Nov 18, 2023
Menuangkan rindu pada secangkir asa, namun sekejap menghilang. Tumpah ruah. Tak tersisa. Ini adalah kisah Rindu. Perempuan bermata biru yang selalu diterkam rindu. Pagi, siang, malam, akan selalu terpendam. Merindukan seseorang yang tak pernah mampu untuk digapai bagaikan hati yang tertusuk samurai. Pedih. Perih. Namun, rindu itu tetap saja hadir, yang kian hari kian sesak. Pangeran berkacamata yang dulu senantiasa hadir dalam hidupnya, kini hanya menyapa lewat mimpi. Hanya mimpi. Yang tak kan pernah bisa menjadi nyata.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#99
monolog
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  •  HAZELA
  • RANNA
  • Menyerah atau Bertahan?
  • Karina #Tamatβœ”
  • Boleh Aku Cerita?
  • Bahasa Sansekerta (Selesai)
  • Rindu Yang Tak Pernah Diam
  • She Pluviophile
  • Seumpama Senja "Jangan Menyimpan Rasa Jika Tak Kuasa Menahan Rindunya"
  • Rindu yang Tak Berujung (Selesai)
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan