We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
SEGARA
  • WpView
    Reads 6
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jan 6, 2025
WpInfo
Non-Fiction
*drrtt... *Drrtt... *drrrttt... (Dering notifikasi.) Maura menekan tombol daya handphone miliknya. Matanya tertuju pada kata yang tertulis dalam chatnya. Dia terguncang setelah membaca keseluruhan teks panjang yang dikirim seseorang yang kini sangat berpengaruh di hidupnya. "Aku pernah bilang kamu itu ibarat pulau, ingat?" "Sayangnya pulau itu hanya untuk ku singgah. bukan menetap, Ra. Maaf, aku izin pamit berlayar ke laut. Aku mau cari dermaga atau pulau lainnya untuk menetap selamanya. Kurasa enam tahun kita cukup sampai disini. Bukan apa, namun kurasa kamu sudah dewasa. Harusnya pulau itu sudah bangkit. Tinggal selangkah lagi kamu akan belajar bagaimana mempertahankan diri sendiri. Tak selalu dengan ku, tapi dari kamu untuk kamu akan dan selalu demi kamu."
All Rights Reserved
#208
cegil
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Ex or New? [REVISI]
  • KISAH TANPA ENDING ✓
  • HTS (Hubungan Tentang Status)
  • Langit Dara [End]
  • BALADA KEHIDUPAN
  • Langit Yang Merenggut Cinta
  • Zeya transmigration (On going)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines