Jangan Mati Rasa Itu

Jangan Mati Rasa Itu

  • WpView
    Reads 1,345
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 41
WpMetadataReadComplete Tue, Oct 22, 2024
Tengku Luth Affan - "Can you give me a time?" "For what?" Alaia yang berkerut kening direnung lama. "For us." Tangan kanannya ditarik dan genggaman Luth terlerai. "There's no us, Luth." "You're my wife." Bahu dijungkit. "...but you are another woman's lover. She was first and I came later, isn't it unfair for her?" Qallysha Alaia - "You don't need a time, Luth. You just need to choose." Anak matanya tepat di anak mata hazel itu. "...and you already have the ruling." Kaki diatur melangkah mendekati Alaia. "How sure are you of my choice?" Mukanya dirapat ke wajah Alaia. "...and the choice isn't you?" "I don't care, Luth. I just want to end whatever between us now." "And you know well the answer, just same like before." Anak mata gadis itu dipaku tajam. "Fine. Like I say before, I'm on my own until I proceed with legal action and see you in court." She's really meant it, dan bukanlah mudah untuk seorang Tengku Luth Affan menelan hakikat itu because no woman ever says no to him not alone reject him berulang kali, tetapi seorang Qallysha Alaia did it! Dia boleh jadi selembut-lembut wanita dan juga sekeras-sekeras wanita. She just knows her worth and she knows when she needs to put the full stop. - Tengku Luth Affan. All white until you see the dark then only you know there's a black so you learn how to cry till you bleed and dry you wonder where's the end and is your choice right? - Qallysha Alaia. "They know each other?" Dia rasa ditipu. Anak matanya masih tak lepas dari memandang Luth dan Alaia yang sedang berjalan melepasi pintu kaca hotel. Hatinya bagai dicarik melihat kot Luth ditubuh Alaia and the way he looked at her, was never once there for me... I was his first love, I have the king of this bet, and it is certain that I will win this game. - Bella Natasya.
All Rights Reserved
#12
airmata
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Heirs's Destiny ✔
  • [ Edit ] Akhtar's : Cinta Yang Berduri
  • Cinta Yang Tak Terduga
  • MY CRAZY WIFE ! (SLOW UPDATE)
  • 𝐌𝐘 𝐒𝐔𝐆𝐀𝐑 𝐃𝐀𝐃𝐃𝐘!
  • Secret
  • ALYA HUMAIRA : Masih Ada Langit Lain [✔︎]
  • Farrel's Boo ©️

5 tahun sudah berlalu.. Aylie dan Arrian masing-masing dengan laluan sendiri. Seorang di Malaysia, seorang di Sweden. Kalau di luaran, mereka seperti biasa. Tapi siapa tahu di hati, mereka sangat merindui satu sama lain. Namun, kedua-duanya ego. Kata-kata yang telah dimeterai sebelum mereka berpisah menjadi pegangan. "Our family come first." Cinta diketepikan, keluarga diutamakan. Demi maruah HarSha, mereka sanggup mengorbankan rasa cinta demi keluarga. "Our feelings is not important." •••••• Kini, 5 tahun sudah berlalu. Saat mereka bersua buat pertama kali, masing-masing jelas terkedu. "Kau tengok aku kenapa?" "Siapa tengok kau? Kau ingat kau handsome sangat?" "Amboi, mulut kau makin teruk eh sejak aku pergi Sweden." "Makin teruk? Mana kau tau mulut aku makin teruk?" Arrian berjalan mendekati Aylie membuatkan Aylie makin ke belakang sehingga badannya tersandar pada dinding. Arrian mengepung Aylie. Kedua-dua tangannya diletakkan di tepi kepala Aylie. Mata biru milik seorang Natasha dan mata kelabu milik seorang Harris saling bertentang. "I miss you so much, Tengku Aylie Natasha." Keluar luahan rindu dari bibir seorang Tengku Arrian Harris. Mukanya ditundukkan. Aylie terdiam. "I miss you too." Kata-kata itu hanya mampu dibalas di hatinya. "Please let your feelings go, Arrian. Aku tak nak kita terus menderita dalam keadaan ini. Kau dah janji dengan aku untuk lupakan semua ni untuk keluarga kita." "But I can't." Aylie memandangnya. Tangan Arrian dicapainya. Cincin di jari Arrian dipandang dan diusap. Arrian memandang perbuatan Aylie. "Me too as well. But we have to try." "Kalau tak boleh juga?" "I know you can." "But you can't!" •••••• Bagaimanakah perjalanan mereka dalam menempuh segala dugaan untuk mengecapi kebahagiaan? Atau adakah mereka tidak akan ditakdirkan untuk bersama? All in The Heirs's Destiny. "We didn't know our destiny."

More details
WpActionLinkContent Guidelines