Hujan di Hari Itu

Hujan di Hari Itu

  • WpView
    Reads 161
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadComplete Sun, Nov 12, 2023
WpInfo
Fiction
Romance
Awan hitam berkumpul menutupi cahaya surya. Tetesan air dari langit mulai jatuh beriringan dengan cepat. Petir menyambar kencang menyilaukan mata. Dibalik jendela rumahnya, duduklah seorang remaja perempuan yang sedang asik menggambar sesuatu di sebuah buku sketsa usang dengan pensil mekanik yang ada pada tangan kanannya sambil memerhatikan hujan yang turun dari dalam rumahnya yang dibatasi oleh jeruji besi dan kaca jendela. Kamarnya dihiasi oleh foto-foto polaroid yang berurutan dan terlihat rapih. Remaja perempuan itu bernama Nirmala.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Harmoni Ombak Dan Lensa [LENGKAP]
  • Sorry i'm late (COMPLETED)
  • INEFFABLE ✔
  • Don't Love for DEVIL'S (HIATUS)
  • I CAN SEE " THEM "
  • After J (Complete)
  • BROKEN HEART [END]
  • REWRITTEN | END

Aruna Elina, seorang gadis remaja berusia 17 tahun, selalu menemukan ketenangan di pantai-tempat ia merasa bebas dari bayang-bayang penyakit jantung bawaan yang selama ini membatasi langkahnya. Dengan kamera di tangannya, Aruna menangkap setiap momen: senja yang hangat, jejak ombak di pasir, dan burung camar yang terbang bebas. Bagi Aruna, setiap jepretan adalah cara untuk mengabadikan keindahan dunia yang mungkin tidak selamanya bisa ia nikmati. Suatu hari, di salah satu perjalanan ke pantai favoritnya, ia bertemu dengan Aksa, seorang pemuda pendiam yang gemar melukis pemandangan laut. Aksa, yang awalnya terlihat dingin dan misterius, perlahan mulai membuka diri kepada Aruna. Lewat percakapan mereka, Aksa mengungkapkan bahwa ia pernah kehilangan adiknya yang memiliki kondisi serupa dengan Aruna. Dalam waktu singkat, keduanya saling memahami dan menemukan kedamaian dalam kehadiran satu sama lain. Namun, kondisi Aruna semakin memburuk, dan harapan untuk menjalani operasi transplantasi jantung semakin kecil. Meskipun begitu, Aruna tidak ingin menyerah pada rasa takut. Bersama Aksa, ia membuat daftar impian sederhana yang ingin diwujudkan-dari menyaksikan matahari terbit di puncak bukit hingga menggelar pameran foto bertema "Hidup dari Mata Seorang Pengamat." Dalam perjuangannya, Aruna belajar bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita memilikinya, tetapi bagaimana kita mengisinya. Di tengah senja terakhir yang ia abadikan, Aruna menemukan arti cinta, keindahan, dan keberanian yang lebih besar dari semua keterbatasannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines