Story cover for Cross My Borderline by sfdlovato
Cross My Borderline
  • WpView
    LECTURAS 360
  • WpVote
    Votos 37
  • WpPart
    Partes 4
  • WpView
    LECTURAS 360
  • WpVote
    Votos 37
  • WpPart
    Partes 4
Continúa, Has publicado nov 14, 2023
Apa itu cinta? Dan apa itu obsesi? Terkadang sulit untuk membedakannya. Keduanya adalah perasaan yang sama menggebunya. Keduanya adalah perasaan yang begitu kuat dan sulit untuk dihindari. 

Semua bermula ketika aku bertemu dengan seseorang yang kupikir tidak akan menjadi sosok yang begitu signifikan di dalam pikiran dan kehidupanku. Hingga akhirnya aku jatuh ke dalam lubang tak berujung, menyeretku ke dalam sebuah tempat di mana orang-orang sepertiku berkumpul menjadi satu. Sebuah tempat di mana orang-orang menyebut kami "orang gila".

Ini bukan hanya tentang dia, tapi juga tentang mereka yang menjadi bagian dalam perjalananku melawan keinginan dalam diri untuk memiliki mereka yang tak bisa kugapai. Bukan karena aku tidak mampu, melainkan aku selalu merasa tidak pantas, kerap kali membuatku mundur dan mencoba melepaskan, karena pada akhirnya lebih baik meninggalkan daripada ditinggalkan.
Todos los derechos reservados
Regístrate para añadir Cross My Borderline a tu biblioteca y recibir actualizaciones
O
#6borderlinepersonalitydisorder
Pautas de Contenido
Quizás también te guste
You're Here, But Not For Me de MyMiela
8 partes Continúa
Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.
Quizás también te guste
Slide 1 of 8
Hopeless cover
Dia & Enam Tahun Setelahnya  cover
My Prince in My Dream's cover
SAMAR (END) cover
You're Here, But Not For Me cover
Our Trygonometry || OhmNaMon [FR] cover
She's dangerous (END) cover
Dark-Romance cover

Hopeless

31 partes Concluida

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.