Dunia Tanpa Emosi

Dunia Tanpa Emosi

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 16, 2023
Apa jadinya bila dimasa depan nanti manusia nyaris tidak memiliki empati? Seiring perkembangan zaman dan merajalelanya kapitalisme, setiap orang dituntut untuk bersikap profesional dan mengedepankan logika diatas segalanya. Hal ini terus berlanjut berpuluh-puluh tahun mendatang, tidak hanya aspek profesi namun merambah ke aspek sosial dan keluarga. Manusia sudah hidup berdampingan dengan AI. Pemerintahan diambil alih oleh AI Government yang menjadikan pemerintahan anti korupsi. Banyak profesi yang hancur seperti koki, teller bank, petugas kebersihan, dan lain sebagainya diambil alih oleh AI, mesin, dan Robot. Namun banyak pula profesi baru bermunculan apalahi dibidang IT, dan Teknologi lainnya. Hal ini dinilai oleh PBB sebagai revolusi umat manusia, sampai kasus bunuh diri masal di dunia yang semakin marak terjadi akhir-akhir ini. Setelah diusut akar masalahnya adalah stress dan kesehatan mental yang buruk. Hingga presiden ke 200 RI Bapa Felix menciptakan alat pengukur kadar emosi, dan Memprioritaskan orang-orang dengan kadar emosi 10% keatas sebagai prioritas yang mendapatkan perlakuan khusus untuk memecahkan masalah bunuh diri masalah dan kesehatan mental.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Auri, Cigarettes and Life
  • Laughter in the Chaos - (Tamat)
  • Hari Ketika Ai Pertama Kali Sadar (END)
  • THE DEATH TARGET
  •  Ilusi Kebebasan
  • BIOPOCALYPSE : Extinction
  • AKU, NIHILIS
  • BOM PIKIRAN!!!

Cover by pinterest kebebasan, uang dan kekuasaan. tiga hal yang sudah lebih dari cukup untuk Auri. menghabiskan hari seperti remaja pada umumnya, bersenang-senang, dan melakukan apapun yang ia mau. entah sejak kapan, hal-hal ini menjadi rutinitas bagi pemuda itu. namun, pada akhirnya hidup bukan hanya tentang bahagia. meski ia telah terpontang-panting dan babak belur di masa lalu, kemudian mendapatkan kesenangan bak sebuah mukjizat, pada akhirnya sesuatu akan kembali menghantam. tidak akan membiarkan hidup hanya diisi oleh tawa bahagia. Auri tak pernah terpikirkan sama sekali jika apa yang ia rasakan sekarang akan secara perlahan terkikis. hanya karena sebuah rahasia masa lalu dan masa kini yang perlahan terkuak oleh seseorang yang bahkan tak pernah terpikirkan di benak Auri untuk mengenal. hiperbola, mungkin saja orang berpikir seperti itu. tetapi bagi Auri yang telah melewati beberapa hal menyakitkan, mendapatkan masalah lagi rasanya akan membuatnya gila.

More details
WpActionLinkContent Guidelines