SALI - Kisah Perempuan Suku Dani

SALI - Kisah Perempuan Suku Dani

  • WpView
    Reads 2,460
  • WpVote
    Votes 303
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 3, 2024
WpInfo
Non-Fiction
Budaya patriakhal yang menempatkan pihak laki-laki sebagai pemegang otoritas di dalam kehidupan keluarga sekaligus komunitas berptotensi menimbulkan kekerasan dengan akibat paling menyedihkan ditanggung oleh perempuan. Perempuan kehilangan daya upaya untuk membela diri, mendapatkan hak hidup dan kesetaraan. Kematian adalah akibat terburuk yang tak terelakkan ketika kesetaraan gender bahkan masih terlalu jauh sebagai wacana. Adalah Liwa, seorang perempuan Suku Dani yang masih terjebak dalam patriakhal dan tidak bisa mengatakan "Tidak". Sebagai objek otoritas dalam relasi gender sehari-hari berubah menjadi teramat pahit setelah perkawinan yang indah dan diramaikan dengan babi-babi. Menyelenggarakan urusan rumah tangga dengan mengandalkan hasil kebun sepenuhnya menjadi tanggung jawab perempuan, tanpa kecuali. Ketika tuntutan dan tekanan dari pihak suami semakin tidak rasionil, beban hidup tak tertahankan. Masihkah Liwa sanggung meneruskan hidup? Bahkan meninggalkan sali, menenggelamkan diri di dasar sungai menjadi suatu pembebasan. Sebuah novel indah, liris dan menggambarkan kepedihan yang menyayat dari perspektif seorang perempuan asal suku Dani, Papua. Novel ini ditulis oleh Dewi Linggasari, seorang penulis produktif sekaligus berprofesi sebagai sekretaris pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Asmat, Papua.
All Rights Reserved
#111
papua
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Diantara Dua Langit
  • Terpaksa Menikah
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • Tubuh Ini Milikku Lagi
  • AKU PEREMPUAN
  • Quick Wear: Panduan Serangan Balik Si Jalang yang Licik
  • MAHACINTABRATA 4: ARJUNA MASIH MENCARI CINTA

Di tengah dunia yang terus bergerak, ada satu jenis kehilangan yang sunyinya tidak bisa dijelaskan kehilangan yang datang bahkan sebelum sempat dipeluk. Buku ini adalah kisah tentang duka yang sunyi, tentang dua manusia yang berusaha bertahan setelah kehilangan anak yang belum sempat mereka genggam. Di balik peran sebagai penyelamat dalam dunia kebencanaan, tersimpan satu kenyataan yang tidak bisa dihindari: bahkan orang yang paling tahu cara menolong, bisa kehilangan arah ketika luka itu datang dari dalam rumahnya sendiri. Ia, yang terbiasa menjadi orang pertama di garis depan, yang tahu bagaimana menenangkan penyintas, meredakan trauma, dan menyalakan kembali harapan, kini harus menghadapi kenyataan bahwa yang paling membutuhkan pertolongan adalah istrinya dan dirinya sendiri. Tidak ada pelatihan untuk rasa bersalah yang tak bisa dihapus, tidak ada protokol evakuasi untuk jiwa yang patah. Buku ini bukan tentang heroisme, tapi tentang rapuhnya manusia. Tentang bagaimana kehilangan bisa mengubah arah hidup, meruntuhkan yang kokoh, dan memaksa seseorang untuk kembali belajar berjalan pelan-pelan, di atas puing-puing harapan. Sebuah catatan jujur tentang duka, cinta, dan upaya untuk kembali pulang pada diri sendiri, meski tak lagi utuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines