lost color

lost color

  • WpView
    Reads 42
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Nov 20, 2023
Ini kisah cerita yang ber alurkan ketidaksengajaan, bertemu dengan nya dan bahagia selama 3 tahun bersama. Bruk.... "Sorry neng maaf gak sengaja" Lelaki itu berucap dengan tangan nya yang membantu mengambil buku yang berserakan. Setelah semua rapi dia kumpul kan buku itu di berikannya kepada gadis yang baru saja di tabrak tadi. "Nih buku nya" Ujar cowok itu. "Terimakasih" Seraya tersenyum manis. "Oh iya.... kenalin Aidan Aldrige." Gadis tadi mengangkat tangan nya lalu menjabat tangan lelaki itu. "Alana Madison" Sahutnya. "Lo kuliah di sini juga?" Tanya Aidan. "Iya di sini kamu juga ya?" Tanya Alana. Aidan menatap wajah Alana dengan dalam lalu mengatakan pamit, karena ada urusan dengan seseorang. Ini baru awal, belum sepertengah. Akan kah Alana dan Aidan kehidupannya seperti apa. Nahhh karena itu pantau terus dong.
All Rights Reserved
#339
retak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Liberosis
  • Don't Love for DEVIL'S (HIATUS)
  • BROKEN HEART [END]
  • 101 Days Before In January
  • ALEYA~~
  • After J (Complete)
  • Aksara Lingga
  • PUSPAJALA (Hiatus)
  • REWRITTEN | END
  • Preman Sekolah Jatuh Cinta (PINDAH KE DREAME)
Liberosis

"Kamu emang anak yang gak berguna! Saya menyesal sudah membesarkan kamu! Apa yang bisa saya banggakan? Gak ada!" "Memang gak ada! Gak ada yang bisa Papa banggain dari aku. Meskipun aku udah berjuang selama ini, itu semua gak ada artinya untuk Papa!" "Anak kurang ajar!" PLAK! Di tengah derasnya guyuran hujan, pria belasan tahun itu melangkah tertatih-tatih dengan darah yang mengucur dari pelipisnya. Wajahnya penuh lebam, sudut bibirnya robek, menyisakan rasa perih yang begitu luar biasa ketika bercampur dengan air hujan. Ia berjalan tak tentu arah di pinggir trotoar, kaos hitamnya basah mencetak dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis, pria itu hanya memakai celana pendek sehingga bulu-bulu di kaki jenjangnya terlihat jelas bahkan udara yang sangat dingin begitu menusuk ditambah tidak memakai alas kaki. Kepalanya menengadah ke atas langit. Membiarkan ribuan rintik hujan itu menampar wajahnya. Matanya terpejam sejenak. Dari radius dua ratus meter tempatnya berdiri, ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sudut bibirnya terangkat. Sepertinya seru, itu pikirnya. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah pelan turun ke jalan aspal seperti orang yang tidak berminat untuk hidup. Dari arah kanan, mobil melaju begitu kencangnya tanpa melihat ada seorang yang berdiri di tengah jalan karena ribuan air itu menutupi kaca mobil sehingga sopir tidak mampu menatap dengan jelas. Selamat tinggal, dunia yang menyakitkan. Namun lima meter lagi saat mobil hendak menyentuh tubuhnya, tiba-tiba ada yang menarik pergelangan tangan pria itu dengan begitu cepat. Napasnya berburu kencang. "LO GAK WARAS?!" Perempuan bermata biru itu ... setidaknya itu yang Alvan lihat sebelum matanya benar-benar terutup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines