Small Memory Fragments

Small Memory Fragments

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Nov 20, 2023
Arul memutuskan untuk meninggalkan teman-temannya dan mendaftar di sekolah berasrama di luar kota untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun, dalam suasana baru, Arul menjadi depresi dan merindukan hangatnya persahabatan lama. Suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis yang tidak hanya mirip dengan cinta pertamanya, tapi juga memiliki kehangatan yang pernah dia rasakan. Arul lambat laun menjadi tertarik pada gadis itu, dan babak baru dimulai dalam hidupnya di sekolah berasrama, yang awalnya ia anggap sulit.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • To Heal
  • Melangkah Tanpa Ragu
  • The Lonely Me, Love's Unexpected Touch
  • DI HARI KELULUSAN
  • Puing Kenangan
  • Hati yang pernah luka
  • Satu Atap, Satu Hati
To Heal

Luka yang tak terlihat seringkali lebih menyakitkan daripada yang tampak. Alira hidup dengan dendam dan kebencian yang tak pernah padam, terutama kepada ayahnya-orang yang telah merenggut ibunya. Diasuh oleh keluarga yang memperlakukannya berbeda, ia tumbuh menjadi gadis yang dingin, keras, dan tak ingin bergantung pada siapa pun. Namun, segalanya berubah ketika Aidan kembali ke hidupnya. Sahabat kecilnya yang dulu ia anggap telah menghilang kini berdiri di hadapannya, membawa cahaya yang nyaris padam dalam dirinya. Aidan tak hanya ingin kembali berteman-ia ingin mengubah Alira, membuatnya percaya bahwa luka bisa sembuh dan masa lalu tak harus selalu menjadi beban. Tapi, bisakah seseorang benar-benar pulih dari luka yang sudah terlalu dalam? Ataukah Alira akan tetap terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya? Di tengah konflik keluarga, geng sekolah yang menambah kekacauan, serta perasaan yang mulai berubah, Alira harus menemukan jawabannya sendiri. Karena terkadang, perjalanan untuk pulih justru lebih menyakitkan daripada lukanya sendiri.

More details
WpActionLinkContent Guidelines