BERBEDA [ON GOING]

BERBEDA [ON GOING]

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 24
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Apr 9, 2024
Berawal dari Ailee yang menyelamatkan seseorang yang ia cintai hingga ia harus menjadi orang yang memiliki keterbatasan, hal itu membuat Ailee harus dibenci oleh orang-orang yang ia sayangi. Tanpa Ailee sadari ia juga harus merelakannya, tapi hal itu tak membuat Ailee sedih karena kehadirannya yang selalu memberikan sinar dalam kehidupannya. Tapi Ketika takdir sudah berkata, tak ada lagi yang bisa Ailee lakukan untuk tetap bersamanya hingga bumi menelannya. "Kenapa Bunda harus melakukan itu, kenapa Bunda sangat egois!!. Jika tidak Bunda lagi yang jadi sandaran Ailee selama ini? Siapa lagi yang harus Ailee jadikan sandaran?" Ailee terjatuh lemas dihadapan Bundanya, sedikit demi sedikit kelenjar lakrimal Ailee membasahi pipinya. ____________________ WARNING‼️ Cerita ini adalah cerita berdasarkan pemikiran Author dan tidak mengcopy tulisan Author lainnya. Jika ada penulisan yang sama dengan karya Author lain, berati itu tidak kesengajaan dalam ide/penulisan yang sama. DILARANG KERAS UNTUK MENG-COPY CERITA INI‼️
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Suck It and See (Complete)
  • DANDY
  • Imam Pilihan Appa [end]
  • ANTARA DOA DAN RASA
  • FLAMBOYAN
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines