Angin Tenggara

Angin Tenggara

  • WpView
    LECTURES 75
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Chapitres 6
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication mar., févr. 20, 2024
Bagi Nawiya, Ahsan adalah segalanya. Bagi Ahsan, segala saja belum cukup rasanya. Bagi Dzaki, Ruri adalah sumber rasa takutnya. Bagi Ruri, rasa takut cuma dimiliki ia yang payah nyalinya. Entah mana yang lebih mudah, dicintai oleh seseorang yang tidak kita harapkan kedatangannya, atau mencintai nama yang tak jelas akankah ketulusannya nyata sebab boleh jadi semua perihal cinta yang ditawarkannya sebatas hal semu belaka?
Tous Droits Réservés
#847
balasdendam
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Puing luka
  • Could you be a home for me? [TAMAT]
  • Sudut Luka Nazea
  • Broken Soul (END ✔️)
  • Last Tears [ Completed ]
  • Jika esok Tak Pernah Ada
  • Aluka (Proses Penerbitan)
  • AFL[1] -UNVOICED [completed]
  • Surat Cinta Untuk Aisya
  • Painful By Accident (Completed)

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu