We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Purnacandra Dan 2 Atma

Purnacandra Dan 2 Atma

  • WpView
    Reads 44
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 9, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Cerita singkat yang ku tulis dengan ungkapan kata cinta di dalamnya, sebuah kehormatan untuk ku menuliskan aksara cinta tentang kita yang terlalu lengkara menjadi sebuah jatukrama yang amerta. "Jika seandainya buana tak mengizinkan kita menjadi amerta bersama" "Bisakah kau mengizinkan daksa ini menuliskan nama mu di dalam aksara nya? Menjadikan nya amerta dalam bait aksara, hingga siapapun yang membacanya akan masuk ke dalam nya"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Selepas Senja Pergi
  • ROMANSA KATA
  • Tentang, Iqbaal✅
  • Aku Dan Kehidupan
  • untuk seseorang yang pernah ku langitkan namanya
  • Kita dan Asa akan Harsa
  • Story Of School
  • Mas Iqbaal [Short Story]✔️
  • Destiny Untuk Arser

Ardika dan Amira adalah dua orang yang bertemu di antara kebetulan-kebetulan kecil-sebuah kertas yang terbuang, sebuah sapaan sederhana di taman kampus. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan itu akan membawa mereka pada kisah yang lebih panjang dari sekadar percakapan ringan di bangku taman. Sampai Ardika akhirnya mengerti. Bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama seseorang tinggal, tapi dari bagaimana ia tetap hidup, bahkan setelah senja pergi. ... Di persimpangan jalan, Ardika berhenti. Menatap langit yang bersih tanpa awan, hanya bintang-bintang yang berkelip kecil, seolah mengamati langkahnya dari jauh. Ia tersenyum, lalu menutup matanya perlahan. "Cinta itu tidak menunggu untuk dimiliki," bisiknya kepada malam. "Ia hanya ingin dirayakan, meski pada akhirnya ia harus pergi." Sejenak ia diam, membiarkan hatinya yang bicara. "Aku menulis namamu di antara bintang-bintang, supaya aku tahu ke mana harus menatap ketika rindu. Aku bisikkan namamu kepada angin, supaya ia membawanya ke mana pun aku pergi. Aku simpan suaramu dalam detak jantungku, supaya aku bisa mendengarmu. Dan aku akan selalu mencintaimu, seperti angin mencintai laut, seperti malam mencintai bintang, tanpa perlu bertanya kapan harus berhenti, bahkan Selepas Senja Pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines