Glasses Man

Glasses Man

  • WpView
    Reads 672
  • WpVote
    Votes 118
  • WpPart
    Parts 18
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 26, 2024
WpInfo
Fiction
Romance
Tentang aku, kamu, dan waktu. __________________________________ "Mas Farlan? Makasih, ya!" "Buat?" "Enggak tau juga, makasih aja." "Iya, sama-sama cantikku." __________________________________ Dia datang layaknya sang mentari yang menghangatkan sang semesta dengan sinarnya. Kehangatannya yang menyergap secara tiba-tiba dan tak terduga, membuatku selalu ingin berada di dekatnya. Pria pemilik senyuman semanis coklat itu, berhasil membuatku terpikat. Tatapan tajam yang bersembunyi di balik kacamata miliknya, seolah menghanyutkanku dalam diam. Suaranya yang teduh dan dalam, selalu berhasil membuatku tenggelam. Dia, pria unik yang menarik.
All Rights Reserved
#31
jarak
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Balik Kacamata [END]
  • Fai
  • Squirt JOB.
  • Eat, Bread and Love (TAMAT)
  • [COMPLETED] 7 Days
  • My Sweet Lσ‎‎ve
  • GAIRAH CINTA HOT DUDA (TAMAT)
  • PARK JIMIN [End]
  • CINTA SELEBGRAM DAN TUAN CEO (SELESAI)
  • Hurt Love

Hidup di perantauan, jauh dari keluarga, jauh dari rumah, selalu merasa sendiri meskipun ada banyak orang di kota metropolitan yang hampir sama padatnya dengan ibu kota. Perjalanan hidup yang tak mudah, apalagi bagi wanita yang sudah berusia lebih dari seperempat abad sepertiku. Aku kira hatiku sudah mati rasa, tapi sepertinya itu hanya praduga. Tak ada awalan berupa perjodohan maupun ta'aruf, seperti yang pernah aku jalani dulu. Hanya pertemuan alami yang tak terlepas dari kehendak Tuhan. Nyatanya tanpa ku sadari, hatiku perlahan jatuh pada seorang pria berkacamata yang awalnya bahkan tak mendapat perhatian khusus dariku. Perlahan, hal yang biasa berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama. Satu hal yang terlambat aku sadari adalah kenyataan bahwa setiap manusia memiliki rahasia yang tak diketahui oleh manusia lainnya, begitupun dia. Sesuatu yang tersembunyi rapat di balik kacamata yang ia gunakan. Kacamata itu menjadi dinding pembatas yang menghalangi orang untuk mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pada akhirnya, pilihan tetap berada di tanganku. Mau tetap bertahan atau malah memutuskan untuk pergi?

More details
WpActionLinkContent Guidelines