We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Bukuku
  • WpView
    Reads 23
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Mar 8, 2025
WpInfo
Non-Fiction
Untuk sesiapapun yang membaca, jangan berharap banyak. Aku tidak menulis agar kalian mau membacanya, tidak pula agar kalian tahu atau bersimpati. Atau segala jenis prasa lainnya. Aku menulisnya, karena kadang terlalu sayang untuk dibuang -meski sebenarnya tidak cukup penting. Tapi, sekali lagi, muntahan kalimat di kepalaku ini terlalu sayang untuk dibuang, pun akan semakin menyesakkan rasanya jika dipaksa bungkam. Pun sebenarnya, untuk diriku sendiri -pula. Agar setidaknya, saat aku di masa depan kelak -jika umur ini sampai pada sekian tahun kedepan, kembali membuka dan membaca ini, aku ingin Ia tahu dan kembali mengingat, bahwasanya dirinya telah berhasil melewati banyak hal yang tertulis disini. Berhasil melewati tahap demi tahap emosi yang kerap membelenggu, dan menuangkannya dalam sini. Bukuku. Isinya bagaimana aku. Tentangku. Dan sesekali, mungkin, emosi-emosi yang hanya bisa kutuang dalam tulisan. -jangan berharap banyak.
All Rights Reserved
#526
diary
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • Thank You For Everything [BoelxYaya]
  • Antara Jarak Dan Waktu
  • Perjalanan Cintaku...
  • TIAP-TIAP PUNYA MASING MASING
  • ALEYA~~
  • SasuHina - Love Story
  • SasuHina - I Knew I Love You
  • Tentang Kita
  • Terjebak Nostalgia

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines