the boy is mine

the boy is mine

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 30, 2023
Ini adalah kisah hidup seorang gadis mahasiswi periang dan murah senyum, tetapi sikapnya akan berubah total ketika ia bertemu dengan sosok lelaki dingin dan misterius. Lelaki itu adalah seorang CEO yang memiliki hotel dan bisnis raksasa yang di wariskan untuknya. Mungkin jika ia tidak bertukar, kehidupan gadis itu tidak akan seperti saat ini. Apalagi saat ia bertemu dengan lelaki itu untuk memulai kontraknya, ia langsung merutuki dirinya habis-habisan, karena sudah membuat kesalahan di masa lalu yang tanpa sadar akan membuat diri nya malu. "Semoga saja, kamu benci sama aku!" bisik gadis itu lirih, lalu berlari meninggalkan lelaki itu sendirian.Mungkin itu kalimat yang ia ucapkan di masa lalu nya, sehingga tanpa sadar ia kembali di pertemukan di saat yang tidak tepat. Tetapi, saat ia ingin mengubur perasaannya dalam-dalam, banyak tragedi yang dapat membuatnya celaka. Sehingga lelaki itu kembali menolong nya, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Apakah gadis itu masih dapat melihat lelaki itu selamanya, atau tidak?? Baca kelanjutannya di cerita ini!!!!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Beloved CEO : CEO Tercinta
  • Ku Pesan Cinta Lewat Do'a (Completed)
  • THE SECRET
  • Contract Marriage [Project Santai]
  • Felicity
  • 𝐇𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐚 𝐂𝐄𝐎 ||
  • LALA
  • RHAYA
  • Hema Alkaris (and his life)
  • Melangkah Tanpa Ragu

Completed ✅ Bagi Stella Francis, bekerja di Peters & Co. adalah tiket satu arah menuju hidup yang lebih layak, walau itu berarti harus mengenakan sepatu murah yang lecetnya tak bisa disembunyikan, menyimpan bekal dalam kotak makan anak-anak, dan tetap tersenyum lebar sambil membawa lima gelas kopi untuk rekan satu tim. Ia tahu dunia kantor tak selalu ramah, apalagi jika atasannya adalah Stefan Peters, seorang CEO yang lebih nyaman berbicara dengan spreadsheet daripada manusia. Namun Stella bukan tipe wanita dua puluh tujuh tahun yang mudah surut. Di balik sikap riangnya, ada keteguhan yang telah ia tempa, bahkan oleh Stefan yang dikenal dingin. Perlahan, celah-celah kecil terbuka. Dalam ruang-ruang diskusi larut malam dan proposal yang disusun berdua, Stefan mulai melihat sisi lain dari Stella, bukan hanya sebagai rekan kerja dan karyawati yang selalu bersinar, tetapi sebagai seorang perempuan yang hidupnya ditambal oleh keterbatasan dan tak pernah kehilangan cahaya. Keduanya berjalan di garis tipis antara profesionalisme dan sesuatu yang jauh lebih personal. Karena ternyata, yang paling sulit bukan menjaga jarak, melainkan pura-pura tak merasa apa-apa. Tapi bagaimana jika yang coba mereka hindari justru satu-satunya hal yang layak diperjuangkan?

More details
WpActionLinkContent Guidelines