Kenangan tak Terlupakan

Kenangan tak Terlupakan

  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 18, 2024
"Luki?" "Risty?" "Ki, kenapa kamu bisa ada di sini?" "Ini rumah Oma ku, kamu sendiri ngapain di sini?" "Aku dan orang tuaku pindah ke sini. Kamu ke sini mau liburan atau di sini buat jagain Oma ku." "Berarti sekarang kita tetanggaan, rumah orang tuaku tepat di samping rumah Oma kamu." "Oke tetangga. Ini kue buat aku kan?" "Enggak, itu buat Oma!" "Kan aku cucunya, aku juga tinggal di rumah ini, jadi ini buat aku juga dong!" "Iya, tapi -" "em.. enak! pasti ini buatan Tante Adel kan?" "Ki, balikin! Jangan di habisin, itu juga buat Oma! Luki!!" Itu salah satu kenanganku 9 tahun lalu, saat aku baru pindah ke kota ini. Dimana aku kembali di pertemuan dengan sahabatku di kota dan sekolahku sebelumnya. Aku dan orang tuaku pindah, sebab ayahku di pindah tugaskan ke kota ini. Hari-hariku di tempat yang baru ini, langsung terasa menyenangkan karena salah satu sahabatku ada di sini. Namun semuanya kini tinggal kenangan... Lalu bagaimana ku lalui hari sekarang?
All Rights Reserved
#6
kenanganmasalalu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • S2 Pundung Family [[HIATUS]]
  • Nuginara [END]
  • Hai, Kak! (END)
  • Pergi tanpa Pamit [Tamat]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Memories in Eleven (TAMAT)
  • A R S E A N A
  • Sehari Untuk Selamanya
  • New Possessive Family
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines