Nai and Key

Nai and Key

  • WpView
    Reads 10
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 2, 2023
Namaku Nairasya Malika Mulky, bunda ku Alnaira Malika Jannah dan ayah ku Reihan Khalif Mulky. Sekarang aku berumur 17 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMA Maharaja Bandung. Aku mempunyai sahabat bernama Raihana Syafira, dia cantik, baik dan juga pencicilan kerjaanya hanya bercanda. Tapi heranya dia selalu juara kelas. Bagiku hidup ini sangat membosankan, tapi aku tidak bosan untuk hidup. Sampai pada akhirnya hidup yang mrmbosankan ini menjadi makin rumit dan aku tidak tau bagaimana akhir nya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear Fenly || Un1ty
  • my idol is an sweet brother
  • Just admiring but love
  • Life Sketch || UN1TY [END] ✓
  • DIA FENLY? | UN1TY
  • ZALIA SENJA
  • Bahagia Ku Dikala Senja
  • KOMA || Un1ty
  • The G'G

Sama halnya seperti semburat warna pelangi Gugusan bintang di langit dan aurora Borealis Beberapa entitas indah memang diciptakan untuk dipandang Bukan untuk diraih apalagi dimiliki Bagaikan mengharap pakistan bersatu dengan India Jangankan kasih sayangnya, perhatian darinya saja tak dapat ku miliki Ini bukan bagaimana aku mengisahkan cerita cinta dalam hidupku, kisah ini tak berisi bagaimana aku bertemu gadis cantik karna tak sengaja menabraknya atau tak sengaja satu kelas dengan dia, kemudian kami saling jatuh cinta dan bahagia. Tidak ini jauh dari kisah seperti itu. Aku ingin menceritakan kebohongan mamaku yang mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Aku ingin menceritakan kebohongan mama yang katanya akan menemaniku selamanya dan aku juga ingin menceritakan kebohongan mama tentang bagaimana indahnya memiliki saudara. Aku tak mengerti bagaimana bisa wanita yang paling ku percaya tega membohongiku, aku masih tak mengerti bagaimana Tuhan menuliskan kisahku ke arah mana, ia memberiku air mata tapi sepertinya lupa menuliskan kata bahagia, setelah semua kebohongan itu ku terima, setalah takdir itu Tuhan mainkan kehidupanku banyak berubah. Kepedihan dan penderitaan mulai tertarik untuk singgah. Meninggalkan rumah, dan tinggal dengan manusia-manusia random akan menyenangkan pikirku, hingga aku lupa jika salah satu dari mereka adalah sumber luka yang nyata. Sia-sia aku lari ternyata luka itu turut mengikuti, ingin mencoba membenci tapi aku tak akan pernah sanggup perangi. Hingga kini luka itu abadi dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines