Entah kenapa suasananya mendadak menjadi serius, tatapan Sanika tak lepas dari sang kakek yang merupakan seorang pengusaha sukses. Dirinya amat menyimpan banyak tanda tanya, dan dia yakin, kakeknya pasti mempunyai jawaban yang mampu menjawab segudang pertanyaannya.
"Ada apa, Nak? Wajahmu serius sekali." Ujar Indra setelah menyeruput secangkir kopi miliknya.
"Sebenarnya apa hubungan dari semua masalah yang terjadi di kehidupan kita?" Sanika langsung bertanya pada poin penting, tanpa basa basi terlebih dahulu.
Indra terdiam, dan kepalanya sedikit menunduk. Berusaha merangkai kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sanika.
"Kakek?" Tanya Sanika lagi, sudah dua menit dia menunggu.
Respon Indra hanyalah tersenyum tipis sambil mengusap rambut putihnya yang mengilap.
"Sanika butuh jawaban sekarang, Kakek. Sebenarnya apa tujuan kita? Kenapa kita selalu diganggu, dan apa alasan mereka mengganggu kita?" Sanika tidak sabaran, Indra masih belum mengatakan apapun.
"Jawabannya sangat sederhana, karena pihak musuh sangat iri dengan segala kesuksesan kita." Indra kini mengambil selembar tisu untuk membersihkan noda di sekitar mulutnya.
"Iri dengan segala kesuksesan? Tidak mungkin, pasti tujuan mereka lebih daripada itu." Sanika mengelak, dia tidak puas dengan jawaban Indra.
"Memang itu kenyataannya, Sanika." Indra hanya mengucapkan kalimat itu.
"Kakek? Apa awal mula semua permasalahan ini? Apa tujuan kita dalam melakukan segala tindakan aneh ini? Jejak siapa yang sedang kita cari?" Sanika membutuhkan jawaban sekarang juga, dan kakeknya hanya tersenyum manis.
"Sanika."
"Iya?"
"Jejak yang kita cari, adalah jejak dari seseorang yang menjadi awal mula konflik ini, Sanika." Indra berdiri dari tempat duduknya, hendak pergi ke tempat lain.
"Kita sangat membutuhkan orang tersebut. Untuk membuat misi kita berhasil."
"Misi? Jadi semua ini adalah misi? Misi apa dan untuk apa?" Sanika benar-benar bingung sekarang.
"Sanika, kamu akan segera mengetahuinya."