3, Kala Cinta Menyapa

3, Kala Cinta Menyapa

  • WpView
    Reads 2,357
  • WpVote
    Votes 256
  • WpPart
    Parts 104
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 4, 2023
[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831] . "Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?" Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya. "Ayahmu membunuh kakekku." Getir suara Airlangga tetap membuat Ells cepat membantah. "Tidak mungkin!" Ells merapikan duduknya. Tidak lagi bersandar, dia duduk tegak menarik kakinya mendekat, bersila. Tatapan menyala penculiknya cukup menjawab. "Papaku tidak pernah membunuh orang!" Ells sungguh tidak terima ayahnya disebut pembunuh. Ayah yang baik, ayah yang lembut, mana mungkin sekeji itu. Namun tatapan Airlangga semakin tajam. *** LANGIT dan bumi, terhalang angkasa yang memisahkan keduanya. Airlangga, anak negeri yang marah, membalas dendam dengan menculik putri seorang penguasa negeri, Daniella Elizabeth van Loen. Perjalanan menerobos hutan, saling melindungi, dan menjaga justru menjadi benih cinta mereka. Sampai akhirnya cinta itu membuahkan janin. Mereka sadar, tidak mungkin selamanya mereka tinggal menyendiri di surga mereka yang bernama hutan. Demi buah cinta mereka, mereka harus kembali ke pusat peradaban. Kembali ke bumi. Kembali membumi. Tapi selalu ada angkasa yang menggantung indah memisahkan langit dan bumi. Haruskah perbedaan itu memisahkan mereka? Apa yang akhirnya Airlangga lakukan untuk membangun pelangi untuk menghubungkan langit dan bumi mereka? Menghilangkan jejak angkasa yang memisahkan mereka. Jika mereka tidak berhasil membangun jembatan pelangi, mereka bersiap untuk tinggal bersama di langit biru. Apakah tidak ada jalan lain? Berlatar masa kolonial Belanda, Airlangga dan Daniella merenda kasih di tengah hutan hujan tropis lereng Gunung Bromo yang cantik. Bertemu binatang-binatang liar. Dengan sedikit penggambaran alam, semoga bisa mengajak pembaca masuk ke dalam cerita, berkelana di tengah hutan di Nusantara abad ke-19. ***
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • [Lacrimosa]; Dara-Dara Runtuh
  •  𝐄𝐥𝐢𝐳𝐚𝐛𝐞𝐭𝐡 [END]
  • My Name Is Erwinda
  • IS IT LOVE?  [On Going]
  • Jingga di Langit Biru
  • 𝐒oerabaja, 1730
  • Pelangi sehabis hujan
  • 𝔼𝕊𝕋𝔸𝔽𝔼𝕋 𝕋☠️𝕏𝕀ℂ [ Re-up. New version ]
  • BROKEN HEART [END]
  • "Algantara Delano Arlaska"

[𝐂𝐨𝐦𝐩𝐥𝐞𝐭𝐞𝐝] ❬ 𝗛𝗶𝗻𝗱𝗶𝗮-𝗕𝗲𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮, 𝟭𝟵𝟮𝟳 ❭ Tiap garis hidup itu punya aksara masing-masing yang membikin itu hidup mau hitam atau putih (atau mungkin abu-abu, barangkali) Cakrawala kemanusiaan terlalu meliuk menyucikan insani. Suci yang dibalut kemunafikan. Dan itu manusia. Kelumpuhannya dari kekuatan secara alami bisa terjadi kalau lagi diradang pesakitan. Mari selami kehidupan anak manusia yang lagi mengarungi penghidupan dari bilik kolonialisme yang komersalis, bersama jiwa-jiwa feodal yang punya digdaya dalam singgasana. Mencipta cerita antara kawula dengan tuan-tuannya. Dan dua dara yang lagi hidup disini, punya jalan masing-masing menempuh alur penghidupan. Walau pada akhirnya juga yang mereka temui adalah cuma kebinasaan. ❝Jangan risau, Mama,❞ kata salah seorang dari dua dara itu pada satu kali waktu. ❝Tuhan akan betul-betul lindungi kita. ❞ ❝Sebab ... Tuhan tak pernah tidur.❞ ••• Genre : Historical Fiction Started : July, 2020 End : April 2021 [𝗦𝘁𝗼𝗽 𝗽𝗹𝗮𝗴𝗶𝗮𝗿𝗶𝘀𝗺, 𝗯𝗲 𝗼𝗿𝗶𝗴𝗶𝗻𝗮𝗹] Noted: Cerita ini sedang dalam masa revisi dan pengeditan, termasuk pergantian judul dari An with An A and E menjadi "[Lacrimosa]; Dara-Dara Runtuh."

More details
WpActionLinkContent Guidelines