Pesan Dari Bapak

Pesan Dari Bapak

  • WpView
    Reads 86
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 4, 2024
"Hai, Alan! Hai, Raka!" Sang bapak melambaikan tangan. "Iya, benar kok ini bapak. Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Alan dan Raka." "Mungkin bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan." "Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak perlu bingung kemana harus mencari jawaban. I don't let death take these, away from us. I don't give death, a chance." "Bapak ada di sini. Di samping kalian. Bapak sayang kalian." *** Ini adalah sebuah cerita tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan.... tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan selalu berjanji bersama mereka.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • TXT x NOONA (BERSAMBUNG)
  • Rendra & Lila [END]
  • KARAFERNELIA
  • [Terjemah] SAVE ME, KEEP ME | MarkChan GS ✔️
  • Empty | 00L NCT Dream
  • F A T E |NA Jaemin|
  • My Brother[Sequel Mianhae My Brother]
  • Dear Renjun || Nct Dream
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines