Kafka: Her Pain and Healer

Kafka: Her Pain and Healer

  • WpView
    Reads 99
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 1, 2025
Kana selalu mengantisipasi setiap langkah dalam hidupnya, menghindari hal-hal yang membuat dirinya hancur. Tetapi, ia tidak pernah mengantisipasi seseorang dari masa lalunya tiba-tiba kembali, mengingatkan Kana akan kehancuran sekaligus kebahagian dalam hatinya. Kafka, lelaki itu datang lagi kehidupannya seolah tidak pernah ada apa-apa diantara mereka. Bertingkah layaknya orang asing dan memorak-porandakan kehidupan Kana yang tenang tanpa lelaki itu didalamnya. "For some reason, he's like a wound and a healer who can make me laugh in happiness." - Her
All Rights Reserved
#910
college
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Langit dan Cahayanya
  • PROSA "Proyeksi Rasa" [END]
  • LDR (Logika Dalam Rasa)
  • When Love Calls [END]
  • Manisnya TeBu
  • Diary Nur
  • Bertahan atau pergi

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

More details
WpActionLinkContent Guidelines