Takut Nikah

Takut Nikah

  • WpView
    Bacaan 177
  • WpVote
    Undian 24
  • WpPart
    Bahagian 6
WpMetadataReadSedang Ditulis
WpMetadataNoticeTerakhir diterbitkan Sel, Apr 30, 2024
WpInfo
Fiksyen
Romantika
Tara orangnya bodo amat. Di saat teman temannya yang lain udah pada nikah, gadis itu masih betah melajang di usianya yang menginjak 27 tahun. Work, life and travel adalah prinsip yang dipegang teguh olehnya. Nikah? sepertinya masih belum ada di dalam bucket listnya. Hal yang paling di hindarinya adalah kumpul keluarga saat lebaran. Biasanya topik pembicaraan kalau ga prestasi anak ya nikah dan gadis itu hanya akan menjawab seadanya jika di tanya. Hanya saja Tara sedang tidak bisa berkata apapun sekarang. Bisa-bisanya ia ada di kamar dengan Dewa yang duduk di sampingnya. "Malam pertama itu biasanya ngapain ya?" Tara bertanya polos. "Ya bikin anak ga sih?" Dewa menjawab kilat. "Ha? Gimana?" Tara cengo, "Ha?" "Ha?" "Ha?" -Takut Nikah- Copyrightⓒ 2023 by Everlyzd
Hak Cipta Terpelihara
#589
baru
WpChevronRight
Jom sertai komuniti bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang diperibadikan, simpan cerita kegemaran anda ke dalam Pustaka anda, serta beri komen dan undi untuk mengembangkan komuniti anda.
Illustration

Anda juga mungkin menyukai

  • Do you remember your first cup of coffee?
  • Personal Assistant! ✔️
  • Just Friend's Scenario (TAMAT)
  • Get Married Now!
  • 2nd Bite of The Cherry
  • Jodoh di tangan mama ✔
  • Marriage Contract🍂[Revisi]

[SELESAI] "Lo ngomong langsung ke dia?" Medhya mengangguk mantap. "Bilang kalau lo suka sama dia?" Ia mengangguk lagi. "Yang lo maksud itu, Ginan Satyatama yang ada dipikiran gue, kan?" Medhya menyerngit. "Memang, ada berapa Ginan Satyatama di kantor kamu?" Gadis itu balik bertanya. "Ya ... satu, sih." Sang teman garuk-garuk kepala. "Maksud gue. Elo ini ..." ia mengangkat telunjuk kearah pelipis, memutar-mutarnya dengan perlahan. "... sinting?" Medhya menggeleng santai. "Aku waras. Seenggaknya, sampai detik ini, masih." Sang teman menghela napas panjang. "Pantesan tiap papasan, dia selalu ngelihat gue kayak ngelihat tai kucing. Ternyata ini semua gara-gara elo." Medhya nyengir. "Terus gimana lagi sekarang?" Adinda bertanya lagi. Ia mendekat pada Medhya yang kini bersandar di kursi ruang tengah kontrakan. "Nyerah?" Medhya langsung menoleh. "Mana mungkin," ujarnya pendek, senyum-senyum. "Dia nggak nolak aku. Kenapa aku harus menyerah?" Betul. Ginan Satyatama tak pernah menolaknya. Saat mendengar pengakuannya, lelaki itu hanya menatapnya datar, lalu mengatakan beberapa kalimat yang tidak mengandung sedikitpun penolakan. Itu artinya, kesempatan Medhya masih terbuka lebar. Masih banyak hari yang tersedia untuk menyatakan kembali perasaannya pada Ginan Satyatama. Jadi, bagaimana bisa Medhya menyerah kalau kisah mereka bahkan belum dimulai sama sekali?

Maklumat lanjut
WpActionLinkGaris Panduan Isi